Overthinking Itu Bukan Penyakit, Ini Skill yang Salah Digunakan

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Jumat, 28 Agustus 2026 | 19:34 WIB

TITIKTEMU.CO-Pernah baru selesai mengirim chat, lalu lima menit kemudian otak mulai rapat internal: “Tadi aku terlalu dingin nggak, ya?” Belum selesai memikirkan chat itu, muncul pertanyaan lain soal pekerjaan, hubungan, uang, sampai masa depan.

Inilah yang sering disebut overthinking. Tapi ada satu cara pandang yang mungkin lebih membantu: overthinking bukan berarti otakmu rusak.

Sering kali, kemampuan berpikir yang sebenarnya berguna sedang dipakai terus-menerus tanpa tombol berhenti.

Baca Juga: Slow Living Bukan Tren — Ini Kota yang Sudah Lama Menjalaninya

Overthinking Bukan Sekadar Kebanyakan Mikir

Dalam psikologi, pola seperti ini berkaitan dengan rumination dan worry, dua bentuk repetitive negative thinking atau pikiran negatif yang berulang.

Rumination cenderung berkutat pada kejadian atau kesalahan masa lalu, sedangkan worry lebih sering melompat ke kemungkinan buruk di masa depan. Keduanya dapat beririsan dan berkaitan dengan gejala kecemasan maupun depresi.

Jadi, masalahnya bukan karena seseorang terlalu pintar berpikir.

Baca Juga: Tren Self Expression 2026: Dari Fashion Kenapa Anak Muda Indonesia Rela Potong Anggaran Makan demi Tetap Tampil Kece di Medsos?

Masalahnya adalah pikiran yang seharusnya membantu mencari solusi justru terus memutar pertanyaan yang sama tanpa menghasilkan keputusan.

Misalnya, memikirkan “Apa yang bisa kulakukan kalau presentasi besok gagal?” bisa menjadi persiapan. Namun, kalau pertanyaan itu berubah menjadi “Bagaimana kalau gagal?

Kalau gagal berarti aku bodoh? Kalau bos kecewa? Kalau karierku hancur?” selama berjam-jam, fungsi berpikirnya mulai bergeser.

Baca Juga: Slow Living Bukan Tren Bule — Ini Alasan Gen Z Indonesia Mulai Memilih Hidup Lebih Pelan

Overthinking Bisa Jadi Skill yang Salah Arah

Otak manusia memang dirancang untuk mengantisipasi masalah. Kita belajar dari pengalaman, membaca situasi, memperkirakan risiko, dan membuat rencana.

Pada Gen Z dan milenial, kemampuan ini mudah sekali “kepancing”.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X