TITIKTEMU.CO-Beberapa tahun terakhir, istilah plant-based semakin sering muncul di Indonesia. Dari menu restoran, konten media sosial, sampai obrolan santai di kafe, gaya makan berbasis nabati seolah naik kelas dari sekadar pilihan diet menjadi identitas gaya hidup. Tapi di balik popularitasnya, muncul pertanyaan yang cukup menarik: apakah tren plant-based benar-benar lahir dari kesadaran kesehatan dan lingkungan, atau sebagian hanya menjadi cara baru untuk terlihat keren?
Jawabannya mungkin tidak hitam-putih. Seperti banyak tren modern lainnya, ada campuran antara niat baik, kebutuhan pribadi, dan sedikit bumbu pencitraan.
Baca Juga: Situationship Bukan Generasi Lemah — Itu Respons Rasional pada Ekonomi yang Tidak Pasti
Plant-Based Bukan Lagi Tren Pinggiran
Dulu, makanan berbasis nabati sering diasosiasikan dengan vegetarian atau vegan yang jumlahnya relatif kecil. Kini situasinya berbeda.
Laporan berbagai lembaga riset pasar menunjukkan bahwa minat terhadap produk plant-based terus meningkat secara global. Faktor pendorongnya beragam, mulai dari kesadaran kesehatan, isu lingkungan, hingga kekhawatiran terhadap konsumsi daging berlebihan.
Di Indonesia, fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya restoran yang menawarkan menu berbasis nabati. Bahkan beberapa jaringan makanan besar mulai menghadirkan alternatif plant-based untuk menjangkau konsumen yang ingin mengurangi konsumsi produk hewani tanpa harus menjadi vegan sepenuhnya.
Dengan kata lain, plant-based sudah masuk ke arus utama.
Baca Juga: Anak Muda Paling Banyak Macet di Pinjol — Ini Datanya dan Cara Menghindarinya
Ketika Salad Menjadi Simbol Status
Masalahnya, setiap tren yang masuk ke arus utama hampir selalu berubah menjadi simbol sosial.
Dulu orang memamerkan kopi single origin. Setelah itu beralih ke sepeda lipat, kemudian lari maraton. Kini sebagian orang memamerkan semangkuk grain bowl dengan harga setara dua porsi nasi padang.
Tentu tidak ada yang salah dengan makanan sehat. Yang lucu adalah ketika diskusi tentang pola makan berubah menjadi kompetisi moral terselubung.
Ada kesan bahwa semakin mahal dan semakin sulit nama bahan makanannya diucapkan, semakin tinggi pula status sosial yang ingin ditampilkan.
Padahal nenek kita sudah lama makan tempe, sayur asem, pecel, urap, dan gado-gado—yang secara konsep sangat dekat dengan pola makan plant-based modern. Bedanya, waktu itu belum ada hashtag dan pencahayaan estetik untuk diunggah ke Instagram.
Artikel Terkait
BRI Klarifikasi Kasus Bu Mien di Wonosobo, Tegaskan Kredit Rp3 Miliar Berstatus Macet Sejak 2023
Lampu Padam, Investasi Ikut Redup? Dunia Usaha Mulai Cemas dengan Pemadaman Listrik Bergilir
41 Aset Disita OJK, Jejak Rp15,47 Miliar Dana Fiktif di Bank Syariah Ini Mulai Terkuak
Jadwal Pelayaran KM Dobonsolo Jakarta-Jayapura, Harga Tiket dan Diskon
Jadwal Kapal Surabaya – Lombok Juni 2026: 50 Pelayaran Siap Angkut Penumpang dengan Beragam Pilihan Harga
Klasemen Sementara Piala Dunia 2026 Terbaru 22 Juni: Meksiko dan USA Sempurna, Sejumlah Tim Terancam Tersingkir
Cara Menentukan Tim Lolos ke Babak Gugur Piala Dunia 2026, Ini Aturan Lengkap dan Skenario Terbarunya