Riset menggunakan EEG menemukan bahwa pembayaran melalui ponsel tidak hanya dapat mengurangi pain of paying, tetapi juga bisa memunculkan apa yang disebut pleasure of paying. Proses transaksi yang cepat dan lancar dapat meningkatkan kecenderungan membeli.
Jadi, bukan semata-mata Gen Z tidak bisa mengatur uang. Teknologi pembayarannya memang dirancang untuk menghilangkan banyak hambatan dalam transaksi.
Baca Juga: Tren Smart Home 2026: Investasi Hemat Energi atau Sekadar Pemborosan Gaya Hidup?
Cara Mengembalikan “Rasa Sakit” yang Hilang
Bukan berarti harus kembali membawa uang tunai ke mana-mana. Pengguna dompet digital bisa menciptakan “rem” sendiri.
Salah satunya dengan menetapkan batas pengeluaran mingguan dan mencatat transaksi kecil. Jangan hanya melihat saldo akhir bulan; perhatikan juga ke mana uang pergi setiap hari.
Cara lain adalah memisahkan saldo untuk kebutuhan wajib dan uang hiburan. Dengan begitu, ketika saldo khusus jajan mulai menipis, otak mendapatkan sinyal yang lebih jelas bahwa aktivitas belanja memang punya konsekuensi.
Baca Juga: Tren Frugal Living Menjamur, Mengapa Banyak Kafe dan Brand Fesyen Mulai Putar Otak?
Pada akhirnya, dompet digital bukan musuh keuangan.
Masalahnya muncul ketika transaksi yang terlalu mudah membuat kita lupa bahwa setiap klik “bayar” tetap berarti uang benar-benar berpindah dari tangan kita.***
Meta description***
Dompet digital mengurangi rasa sakit membayar. Ini alasan Gen Z lebih mudah lupa sudah berapa banyak uang keluar.
5 keyword pendek
dompet digital
Gen Z
cashless effect
pain of paying
keuangan Gen Z
Artikel Terkait
Tren Anti-Tren 2026: Kenapa Perabot Rotan dan Kayu Jati Lokal Kembali Merajai Rumah Modern?
Pindah ke Kota Kecil Bukan Kalah — Tren 'Slow Living Migration' yang Diam-Diam Mengubah Peta Urban Indonesia
Slow Living Bukan Tren Bule — Ini Alasan Gen Z Indonesia Mulai Memilih Hidup Lebih Pelan
Tren Self Expression 2026: Dari Fashion Kenapa Anak Muda Indonesia Rela Potong Anggaran Makan demi Tetap Tampil Kece di Medsos?
Tren Plant-Based di Indonesia: Antara Gaya Hidup Tulus dan Flexing Doang
Kenapa Anak-anak Nggak Perlu Tinggal di Kota Besar untuk Sukses — Tren 2026 Membuktikan
Slow Living Bukan Tren — Ini Kota yang Sudah Lama Menjalaninya