Generasi Sandwich Jilid 2: Milenial Nanggung Ortu dan Anak Sekaligus, Sampai Kapan?

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Senin, 31 Agustus 2026 | 16:40 WIB

TITIKTEMU.CO-Generasi sandwich bukan lagi sekadar istilah yang terdengar keren di media sosial. Bagi banyak milenial usia 28–38 tahun, kondisi ini sudah berubah menjadi rutinitas: gaji masuk, lalu sebagian mengalir untuk anak, kebutuhan rumah, dan orang tua yang mulai memasuki usia lanjut.

Masalahnya, beban tersebut muncul ketika seseorang sebenarnya juga sedang berada di fase membangun hidup. Ada cicilan, biaya sekolah anak, kebutuhan pasangan, rencana membeli rumah, sampai keinginan sederhana untuk punya tabungan sendiri.

Di sisi lain, orang tua mulai membutuhkan perhatian lebih. Biaya kesehatan dapat meningkat, aktivitas sehari-hari mungkin tidak lagi semudah dulu, sementara tidak semua lansia mempunyai sumber pendapatan atau tabungan pensiun yang cukup.

Baca Juga: Bukan Cuma Startup AI, 8 Perusahaan Indonesia Ini Tembus Forbes Asia 100 to Watch 2026

Generasi Sandwich Makin Terjepit oleh Dua Arah

Fenomena generasi sandwich semakin relevan ketika Indonesia memasuki fase ageing population. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, berdasarkan SUPAS 2025, proporsi penduduk lanjut usia sudah mencapai 11,97 persen. Pada saat yang sama, rasio ketergantungan Indonesia mencapai 45,05 persen.

Artinya, kelompok usia produktif menghadapi tanggungan yang tidak bisa dianggap kecil. Dalam keluarga tertentu, seorang milenial bahkan harus menjadi “jembatan” antara dua generasi: anak yang masih membutuhkan biaya dan orang tua yang mulai membutuhkan dukungan.

BPS juga menggambarkan generasi sandwich sebagai penduduk usia produktif yang menanggung kebutuhan orang tua sekaligus anak. Bebannya bukan hanya soal uang, tetapi dapat merembet ke tekanan mental, kelelahan, hingga tertundanya rencana pribadi.

Baca Juga: Baterai Motor Listrik Mulai Drop Setelah 1 Tahun? Ternyata Cara Pakai Sangat Menentukan

Kenapa Milenial Bisa Mengalami Sandwich Generation?

Salah satu penyebabnya adalah perubahan struktur keluarga. Orang tua hidup lebih panjang, sementara anak-anak mereka masih membutuhkan dukungan finansial dalam waktu yang cukup lama.

Belum lagi harga kebutuhan sehari-hari, pendidikan, tempat tinggal, dan kesehatan terus menjadi pertimbangan. Akhirnya, pendapatan yang seharusnya bisa digunakan untuk membangun masa depan malah harus dibagi ke beberapa kebutuhan sekaligus.

Situasinya terasa seperti bermain game dengan dua karakter yang sama-sama punya health bar menurun. Baru selesai membayar uang sekolah anak, muncul kebutuhan berobat orang tua. Begitu satu selesai, yang lain menyusul.

Baca Juga: Viral Pernyataan Kadisdik Kalteng soal Sekolah di Tengah Karhutla, Singgung MBG hingga Siswa ke Kafe

Bukan Berarti Harus Menanggung Semuanya Sendirian

Menjadi bagian dari generasi sandwich bukan berarti seseorang wajib menjadi ATM keluarga tanpa batas. Justru, pembagian tanggung jawab perlu dibicarakan sejak awal agar satu orang tidak menjadi pusat seluruh beban.

Mulai dengan memetakan kebutuhan: mana yang benar-benar wajib, mana yang bisa dikurangi, dan mana yang seharusnya menjadi tanggung jawab anggota keluarga lain. Komunikasi dengan pasangan dan saudara juga penting, terutama ketika kebutuhan orang tua semakin besar.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Lirik Yalal Waton Latin, Arab, Arti, dan Penciptanya

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:24 WIB
X