Kenapa Standar "Sukses Umur 25" Itu Racun Buat Kesehatan Mental dan Dompet Gen Z?

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Rabu, 29 Juli 2026 | 21:11 WIB

TITIKTEMU.CO-Pernah membuka media sosial lalu tiba-tiba merasa hidupmu tertinggal? Teman seusia sudah punya rumah, mobil, karier mentereng, bahkan liburan ke luar negeri. Sementara kamu masih sibuk mencari pekerjaan yang stabil atau berusaha menabung di tengah biaya hidup yang terus naik. Tekanan semacam inilah yang membuat standar sukses umur 25 menjadi semakin berbahaya bagi banyak anak muda.

Masalahnya, patokan tersebut sering kali dibangun dari potongan kehidupan orang lain, bukan dari realitas yang dihadapi mayoritas Gen Z. Akibatnya, kesehatan mental ikut terkikis, sementara kondisi finansial justru semakin tertekan karena keinginan mengejar pencapaian yang belum tentu realistis.

Kenapa Standar Sukses Umur 25 Terasa Wajib?

Selama bertahun-tahun, masyarakat membangun gambaran bahwa usia 25 adalah titik ketika seseorang sudah mapan. Harus punya pekerjaan tetap, tabungan besar, pasangan hidup, bahkan aset pertama.

Baca Juga: Diam-Diam Bertambah! Sudah 10 Bank Tutup Sepanjang 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Padahal, dunia telah berubah drastis. Harga rumah meningkat jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan. Persaingan kerja semakin ketat, sementara banyak pekerjaan kini bersifat kontrak atau freelance. Kondisi ekonomi saat ini jelas berbeda dengan generasi sebelumnya.

Tak heran jika banyak Gen Z merasa gagal, padahal mereka sedang menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks.

Media Sosial Membuat Semua Terlihat Lebih Mudah

Salah satu penyebab tekanan terbesar datang dari media sosial. Kita terbiasa melihat pencapaian orang lain setiap hari, tetapi jarang melihat perjuangan di baliknya.

Baca Juga: Oda Berani Ambil Risiko? Karakter Legendaris One Piece Ini Diduga Akan Gugur di Arc Elbaf

Yang muncul di layar hanyalah promosi jabatan, foto rumah baru, wisuda, atau perjalanan ke luar negeri. Tidak ada unggahan tentang cicilan, utang, penolakan lamaran kerja, atau stres yang mereka alami.

Fenomena ini memicu social comparison, yaitu kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain secara terus-menerus. Berbagai penelitian menunjukkan kebiasaan tersebut berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, rendahnya rasa percaya diri, hingga gejala depresi.

Ketika Demi Terlihat Sukses, Dompet Jadi Korban

Tekanan sosial tidak berhenti pada kesehatan mental. Banyak anak muda akhirnya memaksakan gaya hidup agar terlihat "berhasil".

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Lirik Yalal Waton Latin, Arab, Arti, dan Penciptanya

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:24 WIB
X