TITIKTEMU.CO - Nama Lasem semakin dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang unik dengan sejumlah tempat bersejarah.
Kawasan yang berada di Kabupaten Rembang ini bahkan kerap dijuluki sebagai “Tiongkok Kecil” karena kuatnya akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa yang terlihat jelas dalam kehidupan masyarakatnya.
Namun di balik pesonanya sebagai tujuan wisata, Lasem ternyata tidak ideal sebagai tempat tinggal, terutama dari sisi ekonomi dan peluang kerja.
Baca Juga: Mengenal Frugal Living: Cara Cerdas Mengatur Keuangan Tanpa Mengorbankan Kenyamanan
Pesona Budaya yang Membuat Lasem Istimewa
Lasem memiliki daya tarik kuat dari segi sejarah dan budaya. Banyak bangunan tua bergaya arsitektur Tionghoa yang masih berdiri kokoh dan sebagian masih dihuni oleh warga keturunan Tionghoa.
Tak hanya itu, kawasan ini juga menyimpan ratusan objek yang diduga sebagai cagar budaya, terutama dari China peranakan yang menjadi destinasi wisata Lasem.
Data dari komunitas pelestari budaya setempat mencatat setidaknya ratusan bangunan, situs, hingga struktur jalan bersejarah yang tersebar di wilayah ini, menjadikan Lasem sebagai salah satu kawasan dengan nilai historis tinggi.
Baca Juga: 5 Kuliner Dekat Stasiun Tugu Jogja yang Wajib Dicoba, Murah dan Sudah Teruji Warga Lokal
Keunikan budaya dan sejarah juga tercermin dalam batik khas Lasem. Salah satu yang paling terkenal adalah batik tiga negeri yang memiliki kombinasi warna merah, biru, dan cokelat.
Warna-warna ini bukan sekadar estetika, tetapi memiliki makna. Merah melambangkan budaya Tionghoa, biru mencerminkan pengaruh Belanda, dan cokelat menggambarkan budaya Jawa serta Mataram.
Perpaduan ini menjadi simbol harmoni budaya yang telah berlangsung lama di Lasem. Diperkirakan sejak Laksamana Cheng Ho beserta rombongannya mendarat dan singgah di Lasem pada tahun 1413 M.
Baca Juga: Sisi Lain Salatiga di Balik Kenyamanannya, Bakal Gantikan Jogja sebagai Kota Slow Living?
Toleransi Jadi Nilai Utama Kehidupan Warga
Artikel Terkait
Salatiga, Kota 'Selow' yang Cocok untuk Slow Living, Ini Alasannya
Tak Ada Kehidupan Setelah Isya di Purworejo: Kota yang Mengajarkan Slow Living yang Sebenarnya
Pindah ke Desa untuk Hidup Slow Living? Ini 5 Hal Penting yang Wajib Kamu Pertimbangkan Sebelum Memutuskan!
Sukabumi: Kota yang Tidak Tergesa, Slow Living dengan Bernapas Lega
Mengenal Kafe Slow Bar yang Lagi Ngetren, Demi Menikmati Ngopi Lebih Intim
Rekomendasi 5 Slow Bar Kafe Paling Asyik di Jogja, Menikmati Kopi Terbaik dan Belajar Gratis!
Slow Living di Gunungkidul Memang Menyenangkan, Syaratnya: Lupakan Gaya Necis ala Kota
Slow Living di Jogja: Menikmati Hidup Melambat, Tapi Tidak Murah
Solo: Kota dengan Ritme Hidup Lambat, Tempat Ideal untuk Slow Living?