Dari hasil program residensi ini, ada dua novel yang dihasilkan yang diberi judul Para Penjaga Damar dan Laut Suara.
Para Penjaga Damar ditulis Gusti Trisno karena melihat potensi damar yang terdapat di Pesisir Barat. Gusti bahkan keluar-masuk hutan untuk melihat orang-orang menyadap damar, bahkan masuk ke semacam tempat yang memisahkan damar berdasarkan kualitasnya.
Dari hutan damar, Gusti belajar bahwa semua yang di lingkungan atau bumi perlu dijaga.
" Kalau kita jaga, kita akan memanen hasil suatu ketika. Tokoh dalam Para Penjaga Damar, aku ambil dari gabungan tiga karakter pelajar yang kuwawancarai di SMKN 1 Krui.
Para pelajar ini setiap hari libur mengunduh getah damar. Bayangkan pohonnya itu memiliki tinggi antara 10-50 meter. Aku saat melihat penyadap damar secara langsung agak geleng-geleng kepala sekaligus mengancungi jempol, betapa perjuangan mereka begitu hebat," kata Gusti kagum.
Sekolah SMKN 1 Krui juga menjadi salah satu seting dalam novel Para Penjaga Damar.
Sementara Novel Laut Suara bercerita tentang seorang remaja yang bercita-cita menjadi peselancar, tetapi malah terjerumus menjadi instruktur peselancar. Latar Laut Suara banyak diambil di laut. Berbeda dengan Para Penjaga Damar yang banyak mengambil latar hutan.
Baca Juga: Cerita Desi Pupitasari , Penulis Yogya Yang Mengejar Isu Sepakbola Di Merauke
Di Pesisir Barat, ada festival Krui Pro, bahkan ombak di tempat ini sebagai salah satu ombak terbaik juga terindah di dunia. Banyak sekali peselancar yang ditemui Gusti . Di samping itu, Laut Suara juga berbicara tentang Ikan Tuhuk sebagai salah satu tokohnya. Ikan Tuhuk atau yang dikenal dengan blue marlin itu menjadi maskot kabupaten termuda di Lampung ini. Tokoh ikan tuhuk sekaligus mengajak para pembaca ke dunia fantasi.
Ingin membacanya ?
Artikel Terkait
HAKIM AGUNG KAHARDIMAN, Perwira Nasib Baik Yang Sempat Jadi Kamus Hukumnya LB Moerdani
Cerita Penulis Asal Yogya, Yang Harus Makan Kotoran Ayam Jika Terluka Saat Membelah Pinang
Kisah Penulis Yogyakarta Tria Ayu Berburu Bahan Novel Di Sumba
Penulis Purwokerto Sulung Haryanto Rela Tinggal Di Papua Untuk Novel Remajanya