Kisah Penulis Yogyakarta Tria Ayu Berburu Bahan Novel Di Sumba

photo author
AB Soleh, TitikTemu.co
- Sabtu, 14 September 2024 | 10:00 WIB
Penulis Tria Ayu (tengah) bersama warga Sumba (Ist)
Penulis Tria Ayu (tengah) bersama warga Sumba (Ist)

TITIKTEMU.COResidensi untuk penulis adalah salah hal istimewa, karena residensi ini mirip karantina sebetulnya. Penulis diisolasi sejenak dari dunia luar, supaya bisa berkonsentrasi menulis atau mendapatkan ide di suatu tempat.

Pengalaman inilah yang dirasakan penulis produktif kota Yogyakarta , Tria Ayu K , yang mendapat undangan dari Pusat Pembinaan Dan Sastra untuk ditempatkan di Sumba Timur NTT. Mulanya Tria direkomendasikan oleh seorang penulis senior untuk mengikuti seleksi residensi ini. Tentunya  portofolio menjadi bahan pertimbangan penting. Selain Tria sudah menulis banyak buku anak, juga mempunyai beberapa karya berupa novel remaja.

Pengalaman paling berkesan, untuk  Tria adalah  riset ke Pinu Pahar. Sebuah wilayah paling selatan dari Sumba Timur. Karena  kebetulan Camat Pinu Pahar sedang ke Waingapu, Tia bisa menumpang mobilnya menuju ke sana.

Baca Juga: Cerita Penulis Asal Yogya, Yang Harus Makan Kotoran Ayam Jika Terluka Saat Membelah Pinang

Panorama sepanjang jalan sangat indah, diapit oleh perbukitan yang berlekuk-lekuk. Namun, tikungan-tikungannya sangat tajam dan setelah dua pertiga perjalanan, jalan rusak parah. Kadang,melalui jalan berbatu yang sempit dan menanjak, kadang di samping berupa jurang.

" Kalau saya pikir-pikir lagi, nekat juga saya memilih tempat riset ke sana, karena harus bertaruh nyawa dahulu. Ditambah lagi, saya sempat mabok darat, haha, " tutur Tria mengenang masa residensi selama bulan Agustus lalu.

Di Pinu Pahar, Tria melakukan  riset di sebuah SMA yang baru berdiri 3 tahun lalu. Awal berdiri, hanya ada satu bagungan dari gedek bambu dan batako seadanya juga beratapkan seng. Bahan bangunan dan proses pembangunan sekolah tersebut murni swadaya masyarakat di sana.

Baca Juga: Libur Sekolah Dengan Lomba Bertutur , Meningkatkan Literasi Anak

"Banyak kisah anak-anak itu yang menyentuh hati saya. Ada yang berjalan kaki hingga 7 Km untuk sampai ke sekolah. Jika hujan, mereka tetap bersekolah. Mereka tidak membawa payung atau pelindung lainnya dan melakukan kegiatan belajar dalam keadaan basah. Lantai yang berupa tanah kadang becek, tapi mereka tidak mengeluh," cerita Tria.

Karena kondisi ekonomi, anak-anak ini  tidak membawa bekal makanan atau minuman. Mereka baru makan setiba di rumah. Beberapa anak malah lanjut bekerja memberi pakan hewan, membantu panen jambu mete. Hebatnya, mereka tetap semangat bersekolah.

SMA Pinu Pahar yang dikunjungi Tria (Ist)
SMA Pinu Pahar yang dikunjungi Tria (Ist)

" Satu novel saya nanti akan bercerita tentang berdirinya SMA Pinu Pahar dan kisah-kisah inspiratif murid-murid dan guru-gurunya. Sebab, saya rasa kisah-kisah inspiratif mereka penting untuk dikabarkan pada orang di luaran sana. Penting juga agar pemerintah lebih mengarahkan matanya ke sana. Sebab, akses jalan yang sulit membuat SMA Pinu Pahar jarang memperoleh bantuan sarana dan prasarana. Saat malam, Pinu Pahar gelap gulita. Hanya ada satu panel surya yang bisa dimanfaatkan penduduk untuk mengakses listrik saat siang. Hal tersebut menghambat pekerjaan kepala sekolah dan guru," kata Tria lagi.

Baca Juga: DIY Kirim Wakil Ke Lomba Perpustakaan Sekolah dan Lomba Bertutur Tingkat Nasional

Pengalaman tidak sampai disitu , Saat  ke Waingapu, Tria  menaiki bis kayu, yakni truk yang sudah dimodifikasi sebagai angkutan umum. Selain mengangkut penumpang, bis ini juga mengangkut aneka barang. Bis kayu ini juga  mengangkut juga barang rongsok, jerigen-jerigen kosong. Sopir bis kayu  memang membuka jasa titip barang di kota Waingapu, yang kebanyakan menitip bensin, motor, gedebog pisang, juga babi. Ya, babi kecil berbulu hitam ikut menjadi penumpang di bagian belakang bis kayu.

Perjalanan menaiki bis kayu menjadi salah satu pengalaman yang berkesan bagi Tria. Mulai dari kawatir  saat melewati jalan rusak, sopir dan penumpang yang penuh canda dan kekeluargaan. Bayangkan Tria harus menempuh perjalanan  yang lumayan lama. Total, 9 jam  baru sampai ke Waingapu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: AB Soleh

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X