Cerita Penulis Asal Yogya, Yang Harus Makan Kotoran Ayam Jika Terluka Saat Membelah Pinang

photo author
AB Soleh, TitikTemu.co
- Sabtu, 31 Agustus 2024 | 12:30 WIB
Penulis Buku Anak Asal Yogyakarta Ruwi Meitasari (Ist)
Penulis Buku Anak Asal Yogyakarta Ruwi Meitasari (Ist)

TITIKTEMU.CO, Penulis Buku Anak Asal Yogyakarta Ruwi Meitasari berkesempatan mengikuti undangan Pusat Pembinaan Bahasa dan Satra mengikuti Residensi  di daerah 3T. 

Ia bersama 24 penulis lain ditempatkan selama 25 hari di daerah 3T untuk mengeksplorasi segala hal tentang lokus residensi di Kabupaten Sintang Kalimantan Barat. Hasilnya, penulis ini harus menuangkannya menjadi kisah untuk dua buah judul novel

"Ini membuka mata saya,  bahwa banyak sekali hal yang bisa diangkat untuk menjadi kisah. Dekat dengan orang-orang, budaya, dan tempatnya langsung pasti sangat berbeda saat kita riset dari jauh. Panca indera kita bekerja optimal untuk eksplor, " Kata Ruwi bersemangat.

Ruwi yang mempunyai nama pena untuk buku anak Witaru Emi ini diundang Pusat Bahasa dan Satra karena hasil dari seleksi portofolionya berupa  karya-karya novelnya  yang sudah banyak dibukukan. 

Baca Juga: HAKIM AGUNG KAHARDIMAN, Perwira Nasib Baik Yang Sempat Jadi Kamus Hukumnya LB Moerdani

Saat awal penempatan awal bulan Agustus , Ruwi  di Sintang  tidak tahu akan bertemu  siapa dan topik cerita apa yang akan diangkat. Namun, semesta sepertinya mendukung Ruwi, sehingga ia dipertemukan dengan orang-orang yang tahu banyak hal tentang Sintang.

Hal lucu pun kemudian duiemukan saat saya berada di sekolah adat Rumah Punjung. Di sana Ruwi  melihat bapak-bapak dan ibu-ibu menginang. Ada alat untuk mengupas pinang bentuknya mirip tang. Katanya jika saat mengupas tangannya terluka, agar cepat sembuh  harus makan kotoran ayam.

" Nah, saat saya disodorin alat itu untuk mencobanya. Segera saya menggeleng. Saya tidak mau makan tai ayam. Tertawalah mereka semua,"kara Ruwi iertawa mengenangnya.

Tapi saat sirih, kapur, pinang selesai ditumbuk di penutuk, warga memberi Ruwi agar  mau menginang. Ia mencoba dan mengunyah. Karena pernah menginang sebelumnya, Ruwi  tidak terlalu kaget dengan rasanya. Namun saat diludahkan ternyata hasilnya  tidak terlalu merah. Lagi-lagi mereka menggoda saya, itu tandanya suami saya tidak ganteng. Katanya makin merah suaminya pasti ganteng,"kata Ruwi lagi terkekeh.

Baca Juga: Buku Batik Pakualaman Mengungkap Pesan Dalam Motif Batik

Ruwi sendiri akan mengangkat tema tentang ambruknya rumah betang yang saat ini jadi isu utama di Sintang. Karena menyangkut rumah betang otomatis pasti akan ada kain pantang. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Untuk novel kedua Ruwi akan menggarap epos Keling Kumang dengan nuansa futuristik agar lebih menarik bagi pembaca remaja.

Residensi ini tentunya menyimpan jutaan cerita bagi penulisnya.

 



Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: AB Soleh

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X