TITIKTEMU.CO, Pengalaman residensi atau menetap di suatu tempat untuk mengamati dan riset, bagi penulis merupakan pengalaman berharga. Termasuk bagi penulis asal Purwokerto Sulung Haryanto yang mempunyai nama pena Luna Torashyngu.
Sulung diundang Pusat Pembinaan Bahasa dan Satra untuk residensi di Sorong Papua Barat, selama 25 hari mengamati kehidupan sosial dan budaya disana. Hasilnya ia harus membuat 2 novel untuk segmen remaja.
" Sebetulnya ini secara kebetulan dan mendadak. Saya dihubung Penulis Kang Benny Rhamdani yang dulu pernah jadi editor saya di Mizan untuk ditawarkan ikut program residensi. Kang Benny menawarkan saya karena residensi kali ini menyasar segmen jenjang E (remaja 16-18 tahun) dan beliau tahu saya banyak menulis cerita2 bertema remaja," tutur Sulung.
Baca Juga: Kisah Penulis Yogyakarta Tria Ayu Berburu Bahan Novel Di Sumba
Pengalaman yang paling berkesan di Sorong buat Sulung adalah saat menjelajahi tempat-tempat yang sebelumnya belum pernah di kunjungi, bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang lokal dan mencoba memahami budaya serta cara hidup mereka. Apalagi latar pendidikan Sulung yang lulusan Geologi Unpad, membuatnya mudah berinteraksi dengan lingkungan baru.
" Termasuk mencoba makanan yang belum pernah dimakan seumur hidup," katanya terkekeh.
Tetapi sesering seringnya pergi ke tempat baru, Sulung juga pengalaman tersesat. Suatu saat ia mencoba naik angkutan ke daerah pemukiman. Selain lebih merakyat, juga untuk alasan lebih lebih irit . Tapi googlemap yang jadi panduannya menyarankan turun di perempatan ke tempat yang ternyata masih jauh dari tempat yang dituju. Terpaksa ia harus jalan lagi yang cukup lumayan jauh. Setelah sampai, ada yang memberitahu kalau ternyata ada jalan pintas dari perempatan ke tempat itu dan itu belum ada di google map.
Suatu saat Sulung juga harus memakai baju adat dan masuk kerumah adat Papua yang disebut Honai.
Baca Juga: Cerita Penulis Asal Yogya, Yang Harus Makan Kotoran Ayam Jika Terluka Saat Membelah Pinang
" Gak menyangka kalau honai yang dari luar kelihatan kecil, ternyata di dalamnya punya dua lantai... walau harus menunduk untuk naik ke lantai duanya. Itu membuktikan kalau orang Papua jaman dulu yang sering disangka primitif ternyata sudah punya teknologi arsitektur yang bisa memanfaatkan ruangan kecil secara efisien," katanya kagum.
Sementara itu, untuk penulisan dua novel berlatar residensi ini, Sulung memilih satu bertemakan petualangan menyusuri tempat-tempat bersejarah di lokusnya dengan dibumbui sedikit fiksi, untuk lebih mengenalkan tempat-tempat tersebut yang selama ini belum banyak diketahui.
Novel keduanya lebih ke pendekatan dan pengenalan budaya dan pola hidup masyarakat daerah lokus, diceritakan dengan sudut pandang seorang remaja yang kembali ke kampung halaman yang belum pernah dilihatnya sepanjang hidupnya.
Seru tunggu hasil dari penulis produktif ini.
Artikel Terkait
Sri Sultan Tegaskan Literasi Dan Edukasi Agar Kasus Antraks Tidak Berulang
Punya Enam Duta Literasi , Kabupaten Rembang Siap Majukan Budaya Literasi
Libur Sekolah Dengan Lomba Bertutur , Meningkatkan Literasi Anak
Cerita Penulis Asal Yogya, Yang Harus Makan Kotoran Ayam Jika Terluka Saat Membelah Pinang
Kisah Penulis Yogyakarta Tria Ayu Berburu Bahan Novel Di Sumba