Cerita Desi Pupitasari , Penulis Yogya Yang Mengejar Isu Sepakbola Di Merauke

photo author
AB Soleh, TitikTemu.co
- Minggu, 10 November 2024 | 07:30 WIB
Desi Puspitasari  bersama warga di Merauke (Ist)
Desi Puspitasari bersama warga di Merauke (Ist)

TITIKTEMU.CO, Novel mengangkat soal remaja di wilayah Indonesia Timur yang yang terkait olah raga sepakbola mungkin masih jarang. Inilah yang ada di kepala penulis asal Yogya Desi Puspitasari yang mengikuti residensi atau penempatan selama 3 minggu di wilayah 3T  atas undangan  Pusat Pembinaan Bahasa Dan Sastra.

" Awalnya saya mengincar lokus Morotai, Alor, Sumba, dan Seram Bagian Barat, Maluku. Namun, saat pengumuman secara resmi ternyata saya mendapat lokus Merauke, Papua Selatan," kata Desi.

Setelah pengumuman lokus residensinya, Desi memutuskan untuk melakukan riset sepak bola di Merauke. Pertimbangannya adalah beberapa tahun terakhir banyak pemain bola Indonesia yang moncer berasal dari Papua. Bila memungkinkan, ia malah  ingin bertemu Eduard Ivakdalam mantan pemain timnas yang telah kembali melatih klub bola di Merauke.

Baca Juga: Penulis Purwokerto Sulung Haryanto Rela Tinggal Di Papua Untuk Novel Remajanya

Sayangnya setiba di Merauke dan mencari informasi,  ternyata Eduard Ivakdalam kini melatih di Timika. Desi akhirnya bertemu Coach Andang, pelatih klub bola Perkasa Putra dan Perkasa Putri.

Ia kemudian melakukan riset tentang sepak bola di Merauke dan kehidupan warga Sota yang tinggal di perbatasan wilayah RI dan Papua Nugini. Dua hal ini yang kemudian diangkat dalam novelnya.

" Selama berada di Merauke saya sempat menyaksikan pertandingan klub bola putra. Pada kesempatan tersebut saya diberi tahu cara mudah menengarai asal suku para pemain bola. Misalnya:suku Muyu memiliki postur gempal, suku Marind utamanya Marind pantai berpostur tinggi besar," ungkap Desi lagi. 

Desi lantas mendatangi latihan klub bola putri Perkasa Putri di Merauke. Ia kagum karena remaja Merauke ternyata menyukai bola sejak mereka kecil. Apalagi secara fisik remaja Merauke sangat bagus. Tapi, sangat kurang dalam bermain taktis, berpikir strategi, dalam kerjasama tim. 

Hal lain yang membuat kagum adalah semua anak bercita-cita menjadi pemain timnas dan pendidikan akhlak yang baik sangat ditekankan dan dipraktikkan oleh pelatih.

Baca Juga: Kisah Penulis Yogyakarta Tria Ayu Berburu Bahan Novel Di Sumba

 

Dari pengalaman itu lahirlah  buku novel SIO MARIA!. Bercerita tentang Maria yang ingin menjadi pemain bola timnas Indonesia. Sebuah kecelakaan saat bertanding memaksanya rehat selama setahun. Maria sadar ia tak lagi bisa bermain bola, juga tak mungkin bisa mendaftar polisi atau tentara selulusnya SMA.

Pilihan cita-cita yang memungkinkan adalah menjadi guru. Sebelum benar-benar memupus mimpinya menjadi pemain bola timnas, Maria ingin bertanding dan mencetak gol sekali lagi. Keinginannya ditentang keras oleh pelatihnya. Bila memaksakan diri, kaki Maria bisa terluka dan ia takkan lagi bisa berjalan.

" Saya menulis SIO MARIA! karena ingin teman-teman remaja yang membaca kisah ini untuk berani bermimpi tinggi di tengah keterbatasan yang ada. Upaya tekun dan sungguh-sungguh juga diperlukan. Novel ini juga ingin memotret klub bola putri yang mulai bergeliat dan sangat menjanjikan di Merauke." tutup Desi.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: AB Soleh

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X