Buya Yahya menegaskan bahwa ilham bukan hujjah, sekalipun seorang wali kutub mendapatkan ilham, tidak boleh menjadi hujjah.
“Tapi kalau Anda percaya karena dia saleh, kemudian ilhamnya tidak melanggar syariat, maka boleh Anda ikuti,” ujarnya.
Namun bila ada yang tidak mempercayai ilham tersebut jangan dicaci maki, misal seseorang memilihtidak melakukan amalan saat Rebo Wekasan karena tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW.
“Jadi kalau Anda mempercayai guru Anda seorang yang saleh boleh-boleh saja dilakukan, akan tetapi yang Anda lakukan tentunya dasarnya adalah Nabi, bukan dasarnya ilham. Ilham pengantar kepada sunah nabi,” tambah Buya Yahya.
Buya Yahya mencontohkan, misalnya berdasarkan dari ilham bahwasanya pada Rabu terakhir bulan Safar akan turun bala, maka tolaklah bala dengan salat dua rakaat.
“Salat apa itu? Salat yang pernah diajarkan nabi untuk menolak bencana namanya hajat. Kemudian ditambah lagi sedekah. Nabi yang nyuruh, itu boleh,” kata Buya Yahya.
Dengan demikian mengerjakan amalan Rebo Wekasan boleh dan sah-sah saja dilakukan asal tidak bertentangan dengan syariat dan tidak menisbatkannya kepada Nabi Muhammad SAW.
Baca Juga: Kebumen Diguncang Gempa 4,3 Magnitudo, Dirasakan Hingga Yogyakarta. BMKG : Hati-hati Gempa Susulan
Karena terkait amalan Rebo Wekasan ini memang tidak pernah ada tuntunan langsung dari Nabi Muhammad SAW.
"Selagi itu tidak bertentangan dengan syariat dan itu tidak dinisbatkan kepada Nabi, ya biarkan saja," pungkas Buya Yahya.***