TITIKTEMU.CO, Surabaya - Kondisi puasa mewajibkan muslim menahan haus dan lapar sejak pagi hari hingga menjelang petang.
Dengan waktu yang cukup lama tidak mendapatkan asupan makanan, asam lambung dapat naik, karena tidak adanya makanan yang dapat diproses oleh cairan tersebut.
Menurut dr. Muhammad Miftahussurur, M.Kes. Sp.PD. Ph.D. yang juga Wakil Rektor Bidang Internasionalisasi, Digitalisasi dan Informasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, asam lambung kerap naik saat puasa, karena kondisi perut dalam keadaan kosong.
Baca Juga: Asam Lambung Naik? Begini Cara Mencegahnya
Hal tersebut dapat menimbulkan perasaan sakit dan nyeri pada perut, sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Lebih lanjut dr. Miftah menjelaskan, dalam memilih makanan untuk berbuka ataupun sahur, umat muslim yang berpuasa disarankan tetap memperhatikan 3 J (jenis, jumlah dan jadwal).
“Saya sangat sering menganjurkan kepada pasien untuk yakin, bahwa dengan berpuasa akan dapat mengurangi atau bahkan menyembuhkan keluhan gangguan lambung. Asalkan, dilaksanakan dengan sebenar-benarnya sesuai anjuran,” ujar dr. Miftah.
Baca Juga: SNMPTN : Kerennnn…..Gadis Manis Berusia 14 Tahun, Lolos SNMPTN 2022 Fisip Unair
Agama Islam, lanjutnya, telah menuntun agar umatnya dapat berpuasa dengan baik dan benar.
Jadwal makan, dapat dicontohkan pada saat berbuka.
Dengan mendahulukan takjil sebagai makanan pembuka, supaya tidak memberikan tekanan berlebih pada lambung yang beristirahat setelah sekian jam.
Kemudian, diikuti dengan makan besar yang tidak terlalu kenyang dan ditutup dengan sahur.
Baca Juga: MUSIK: Akhir 1988 Lagu Cengeng Dilarang Harmoko, Musik Pop Dangdut yang Naik Daun
“Kebiasaan-kebiasaan seperti itu, yang sering menjadi permasalahan. Tidak sahur dan makan sebelum tidur sehingga gangguan lambung menjadi kambuh,” jelas dr. Miftah.