pendidikan

Generasi yang Dibesarkan Buat “Kuat”, Sekarang Membesarkan Anak Buat “Merasa”

Rabu, 26 Agustus 2026 | 11:20 WIB

TITIKTEMU.CO-Dulu, banyak anak tumbuh dengan kalimat seperti, “Jangan cengeng,” “Anak harus kuat,” atau “Turuti kata orang tua.” Kini, semakin banyak orang tua justru bertanya, “Kamu kenapa?

Mau cerita?” Pergeseran nilai parenting lintas generasi ini bukan sekadar perubahan gaya bicara, tetapi mencerminkan cara pandang baru tentang hubungan orang tua dan anak.

Pola asuh memang tidak lahir di ruang kosong. Nilai keluarga, kondisi sosial, pengalaman masa kecil, hingga perkembangan teknologi ikut membentuk cara seseorang membesarkan anak.

Kajian tentang perbedaan pola asuh Generasi X, Y, dan Z menunjukkan adanya kecenderungan perubahan dari pola yang menekankan kontrol dan disiplin menuju komunikasi, empati, serta keterbukaan.

Baca Juga: Demo 27 Agustus di DPR Makin Ramai, GERAM Bawa 10 Tuntutan yang Bikin Senayan Disorot

Pola Asuh Lintas Generasi: Dari “Menurut” ke “Mengerti”

Generasi yang tumbuh pada masa ketika orang tua menjadi pusat keputusan biasanya akrab dengan aturan yang tidak banyak ruang untuk diperdebatkan. Nasihat orang tua dianggap sebagai kompas. Anak yang patuh dipandang sebagai anak baik, sementara membantah sering dianggap sebagai bentuk ketidaksopanan.

Bukan berarti pola tersebut sepenuhnya buruk. Disiplin, tanggung jawab, sopan santun, dan kemampuan bertahan dalam situasi sulit tetap menjadi bekal penting.

Namun, generasi orang tua masa kini mulai menambahkan satu hal yang dahulu sering luput: ruang untuk memahami perasaan anak.

Baca Juga: Prabowo Turun Langsung Tangani Karhutla Kalimantan, TNI-Polri Dikerahkan ke 4 Provinsi

Penelitian mengenai pola komunikasi generasi terdahulu dan orang tua milenial menemukan pergeseran dari komunikasi satu arah menuju dialog dua arah. Anak semakin diberi kesempatan menyampaikan emosi dan pendapat, sementara orang tua berusaha membangun kedisiplinan melalui empati dan komunikasi tanpa ancaman.

Anak Tidak Hanya Diminta Kuat, tetapi Juga Boleh Merasa

Inilah salah satu perubahan paling terasa dalam parenting modern.

Jika dahulu menangis sering dianggap tanda kelemahan, sekarang menangis dipandang sebagai salah satu cara anak mengekspresikan emosi. Ketika anak kecewa, orang tua tidak selalu buru-buru berkata, “Sudah, jangan dipikirkan.”

Baca Juga: Desil DTSEN Berubah? Jangan Panik, BPS DIY Buka Jalan untuk Perbaikan Data

Sebaliknya, muncul respons seperti, “Kamu kecewa, ya?”

Halaman:

Tags

Terkini