Mereka mungkin terlihat kuat dari luar, tetapi sebenarnya tidak terbiasa mengomunikasikan kebutuhan emosionalnya. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kualitas hubungan interpersonal.
Baca Juga: Kita Generasi Sandwich — Mengurus Anak Sekaligus Orang Tua, Ini Cara Bertahan
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua?
Validasi Emosinya Terlebih Dahulu
Alih-alih langsung berkata “jangan nangis”, cobalah mengatakan:
- “Kamu sedih ya?”
- “Ayah mengerti kamu kecewa.”
- “Boleh menangis kalau memang sedih.”
Kalimat sederhana ini membantu anak memahami bahwa emosinya diterima.
Ajarkan Cara Mengelola Emosi
Setelah anak lebih tenang, bantu ia mencari solusi. Misalnya dengan mengajak berbicara, menarik napas dalam-dalam, atau menjelaskan apa yang membuatnya sedih.
Tujuannya bukan membuat anak berhenti menangis secepat mungkin, melainkan membantu mereka memahami dan mengelola emosinya.
Beri Contoh dari Orang Tua
Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar. Ketika ayah atau ibu mampu menunjukkan emosi secara sehat, anak akan memahami bahwa merasa sedih, kecewa, atau menangis bukanlah hal yang memalukan.
Baca Juga: Anak Muda Paling Banyak Macet di Pinjol — Ini Datanya dan Cara Menghindarinya
Anak Laki-Laki Tidak Harus Menjadi "Kuat" dengan Menekan Emosi
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang lama tentang maskulinitas. Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis. Justru kekuatan sejati muncul ketika seseorang mampu mengenali, menerima, dan mengelola emosinya dengan baik.
Jadi, saat anak laki-laki Anda menangis, mungkin yang paling ia butuhkan bukan perintah untuk berhenti, melainkan pelukan, pendengaran yang tulus, dan keyakinan bahwa perasaannya berharga. Dari situlah fondasi kesehatan mental yang sehat mulai dibangun.***