Henti Bilang "Jangan Nangis" ke Anak Laki-Laki Kamu — Ini Dampak Jangka Panjangnya

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Minggu, 28 Juni 2026 | 11:00 WIB
Ilustrasi Henti Bilang "Jangan Nangis" ke Anak Laki-Laki Kamu (Pinterest @thomas_teran)
Ilustrasi Henti Bilang "Jangan Nangis" ke Anak Laki-Laki Kamu (Pinterest @thomas_teran)

TITIKTEMU.CO-Masih banyak orang tua yang tanpa sadar mengatakan, “Sudah, jangan nangis. Kamu kan laki-laki.” Kalimat ini terdengar sepele dan bahkan dianggap bagian dari pendidikan karakter.

Namun, berbagai penelitian tentang perkembangan anak menunjukkan bahwa melarang anak laki-laki mengekspresikan emosi justru bisa meninggalkan dampak jangka panjang yang tidak sederhana.

Ketika anak laki-laki menangis, sebenarnya mereka sedang melakukan hal yang sangat manusiawi: mengekspresikan perasaan. Sayangnya, norma sosial yang sudah mengakar sering membuat tangisan dianggap sebagai tanda kelemahan. Padahal, kemampuan mengenali dan mengelola emosi adalah keterampilan hidup yang penting bagi siapa pun, tanpa memandang jenis kelamin.

Baca Juga: Stop Tanya Dapat Nilai Berapa? — Ini Pertanyaan yang Lebih Penting untuk Anak

Mengapa Anak Laki-Laki Juga Perlu Menangis?

Sejak usia dini, anak belajar memahami emosi melalui respons orang tua. Saat seorang anak sedih lalu diberi ruang untuk mengungkapkan perasaannya, ia belajar bahwa emosinya valid dan layak didengar.

Sebaliknya, jika setiap tangisan dibalas dengan kalimat seperti “jangan cengeng” atau “laki-laki harus kuat”, anak bisa mulai percaya bahwa menunjukkan kesedihan adalah sesuatu yang salah.

Menurut berbagai studi dalam bidang psikologi perkembangan, anak yang dibiasakan mengenali dan menamai emosinya cenderung memiliki kecerdasan emosional yang lebih baik saat dewasa. Mereka lebih mampu membangun hubungan sehat, menyelesaikan konflik, dan mengelola stres.

Baca Juga: 7 Kalimat yang Terdengar Biasa Tapi Merusak Kepercayaan Diri Anak Seumur Hidup, Orang Tua Wajib Waspada

Dampak Jangka Panjang Jika Anak Terus Dilarang Menangis

Kesulitan Mengenali Emosi Sendiri

Ketika emosi sedih terus ditekan, anak bisa tumbuh tanpa benar-benar memahami apa yang sedang ia rasakan. Ia belajar menyembunyikan emosi, bukan mengelolanya.

Akibatnya, saat dewasa mereka mungkin merasa bingung menghadapi perasaan kecewa, sedih, atau takut karena tidak pernah diajarkan cara memproses emosi tersebut dengan sehat.

Lebih Rentan Melampiaskan Emosi dengan Cara Negatif

Emosi yang ditekan tidak benar-benar hilang. Dalam banyak kasus, kesedihan yang tidak tersalurkan bisa berubah menjadi kemarahan, frustrasi, atau perilaku agresif.

Baca Juga: Anak Tunggal vs Bersaudara: Mana yang Lebih Bahagia? Ini Jawaban Riset

Inilah alasan mengapa beberapa ahli parenting menilai bahwa melarang anak laki-laki menangis justru dapat meningkatkan risiko ledakan emosi di kemudian hari.

Sulit Membangun Hubungan yang Sehat

Anak yang terbiasa menyembunyikan perasaannya sering kali kesulitan membuka diri kepada pasangan, teman, atau keluarga ketika dewasa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X