TITIKTEMU.CO-Kehidupan menjadi orang tua baru di era digital sering kali terasa sangat riuh namun sekaligus terasa sangat sepi.
Setiap hari layar gawai kita dibanjiri oleh ratusan konten tentang tips parenting dan pola asuh anak yang tampak sempurna.
Namun informasi yang melimpah tersebut sering kali justru membuat para orang tua muda merasa semakin tertekan dan cemas.
Baca Juga: Satu Malam Tanpa Layar: Tantangan 30 Hari yang Mengubah Rumah Sunyi Jadi Penuh Tawa
Mereka terjebak dalam pusaran perbandingan sosial yang tidak ada habisnya dan membuat hati menjadi tidak tenang.
Sadar akan dampak buruk tersebut sebuah keluarga muda di pinggiran kota memutuskan untuk mengambil langkah yang berbeda.
Mereka memilih membatasi konsumsi konten digital dan mulai fokus mencari bentuk dukungan yang jauh lebih nyata di dunia riil.
Meninggalkan Fatamorgana Dunia Maya
Keputusan untuk mengurangi durasi bermain media sosial ini awalnya tentu tidak terasa mudah bagi mereka berdua.
Baca Juga: Ekonomi Kreatif Rp1.000 Triliun: Peluang Besar yang Masih Dilewatkan Anak Muda Indonesia
Ada rasa takut kehilangan tren informasi terbaru yang sedang hangat diperbincangkan oleh netizen di luar sana.
Namun mereka segera menyadari bahwa jempol digital tidak akan pernah bisa membantu menenangkan anak yang sedang tantrum.
Layar kaca yang dingin juga tidak mampu memberikan pelukan hangat saat seorang ibu sedang merasa sangat lelah.
Baca Juga: Hemat BBM dan Pajak Ringan! Ini 16 Mobil Mesin di Bawah 1.400 cc yang Masih Bisa Pakai Pertalite