Mereka lebih sadar soal kesehatan mental, batasan, dan pentingnya komunikasi sehat.
Kedua pihak sebenarnya punya niat sama, yaitu ingin anak tumbuh baik.
Karena itu, kunci utamanya bukan membuktikan siapa paling benar.
Kuncinya adalah komunikasi yang hangat dan jelas.
Mulailah dengan menghargai bantuan keluarga besar.
Ucapkan terima kasih karena mereka ikut menjaga dan mencintai anak. Orang yang merasa dihargai akan lebih mudah diajak bekerja sama.
Baca Juga: Indonesia Mulai Terasa Mendidih, BMKG Ungkap Wilayah yang Sudah Masuk Musim Kemarau
Setelah itu, sampaikan aturan inti dengan tenang.
Misalnya soal jam tidur, makanan tertentu, screen time, atau kebiasaan disiplin.
Gunakan alasan yang mudah dipahami, bukan nada menggurui. Kalimat sederhana seperti “Kami sedang melatih rutinitas tidur supaya anak lebih tenang” jauh lebih efektif daripada menyalahkan.
Pilih juga hal yang benar-benar penting.
Tidak semua perbedaan perlu diperdebatkan. Jika nenek memberi camilan sesekali atau memakaikan baju yang tidak cocok warna, itu bukan masalah besar.
Fokuslah pada hal utama seperti kesehatan, keamanan, dan nilai dasar pengasuhan.
Penting juga bagi ayah dan ibu untuk kompak.
Jika orang tua sendiri berbeda pendapat, keluarga besar akan bingung harus mengikuti siapa.