Menurutnya, administrasi kesehatan bukan sekadar urusan dokumen, tetapi mencakup pengelolaan layanan kesehatan, manajemen rumah sakit, hingga sistem pelayanan yang profesional.
Pilihan ini membuatnya tetap bisa berkontribusi nyata di dunia kesehatan, meski tidak berada di garis depan sebagai tenaga medis.
Baca Juga: Jennie Masuk Usia 30: Perayaan Sunyi di Tengah Tur Dunia dan Hujan Prestasi
Prestasi Akademik yang Bicara
Kerja keras Olin selama masa studi berbuah manis.
Ia mencatatkan Indeks Prestasi Kumulatif 3,79 dan menjadi pemilik IPK tertinggi di antara tiga lulusan terbaik pada Wisuda UMMAD 2025.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa konsistensi, disiplin, dan semangat belajar mampu menembus sekat apa pun.
Belajar Nilai, Bukan Dipaksa Keyakinan
Sebagai mahasiswa nonmuslim, Olin tetap mengikuti mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).
Awalnya, ia mengaku merasa canggung. Namun seiring berjalannya waktu, perasaan itu memudar.
Materi yang disampaikan lebih menekankan nilai moral, etika, kemanusiaan, dan toleransi.
Menurut Olin, mata kuliah tersebut justru memperkaya wawasannya tentang keberagaman dan relevan bagi seluruh mahasiswa, tanpa ada unsur pemaksaan keyakinan.
Kampus yang Ramah Perbedaan
Selama menempuh pendidikan di UMMAD, Olin merasa diterima sepenuhnya.
Ia menegaskan tak pernah mengalami perlakuan diskriminatif, baik dari dosen maupun sesama mahasiswa.