Dua hari kemudian, ia dipindahkan ke ruang ICU dan harus menggunakan alat bantu pernapasan.
Kondisinya kritis selama beberapa hari sebelum akhirnya meninggal.
“Jam pastinya kami kurang tahu, tapi keluarga kasih info sekitar jam enam pagi,” ujar Alvian dari LBH Korban.
Baca Juga: Operasi Zebra 2025 Resmi Dimulai: Ini 8 Pelanggaran yang Jadi Target Utama Lengkap Besaran Dendanya
Temuan Tumor yang Tak Disadari
Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, mengonfirmasi kabar meninggalnya MH.
Ia juga menyampaikan bahwa tim medis menemukan adanya tumor di kepala korban.
“Memang ada tumor, tapi baru ketahuan. Mungkin sudah lama berkembang tanpa disadari,” kata Benyamin.
Kendati begitu, pemerintah tetap menunggu proses penyelidikan polisi untuk memastikan keterkaitan antara kondisi medis tersebut dan kekerasan yang dialami MH.
Polisi Periksa Enam Saksi
Kasi Humas Polres Tangsel, AKP Agil Sahril, mengatakan bahwa penyidik telah memeriksa enam saksi, termasuk guru-guru yang berinteraksi langsung dengan MH.
Penyidik sempat beberapa kali meminta keterangan MH sebelum kondisinya memburuk, dengan pendampingan dari keluarga, KPAI, Dinas Pendidikan, dan UPTD PPA.
Polisi memastikan proses penyelidikan akan dilakukan secara profesional hingga tuntas.
Respons Pemkot Tangsel dan Langkah Pencegahan Bullying
Pemkot Tangsel menegaskan bahwa kasus ini sudah mendapat pendampingan hingga ranah hukum.
Jika keluarga melapor, seluruh proses akan diteruskan oleh kepolisian.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat Satgas Anti-Bullying di sekolah-sekolah dan meningkatkan peran Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK).