Meski sempat rugi karena salah kelola, ia belajar dari pengalaman, mencatat setiap kesalahan, dan memperbaiki perlahan.
Keuletannya akhirnya membuahkan kepercayaan dari masyarakat sekitar.
Baca Juga: Anak Pedagang Nasi Goreng Asal Pandeglang Diterima di Harvard: Kisah Inspiratif Muhamad Yani
Momen Penting: Legalitas Perhutanan Sosial
Tahun 2023 menjadi titik balik. Kelompok Tani Hutan (KTH) Tunas Muda yang dipimpin Leonardo mendapat izin kelola lahan lewat program Hutan Kemasyarakatan (HKm).
Legalitas ini bukan sekadar pengakuan, tapi membuka akses pendampingan, pelatihan, dan bantuan bibit dari Dinas Kehutanan dan instansi terkait.
Bantuan berupa bibit alpukat, durian, kakao, dan cabai membuat petani muda di sekitar ikut tergerak.
Bahkan adik kandungnya ikut kembali ke desa untuk mengelola lahan bersama.
Izin pengelolaan berlaku selama 35 tahun dan dapat diperpanjang, menjadi warisan produktif lintas generasi.
Baca Juga: Dari Olimpiade Matematika ke Wisuda dengan IPK Sempurna: Kisah Inspiratif Orlando Ferrari di UGM
Mengubah Pandangan: Bertani Sebagai Pilihan Bernilai
Selama ini, bertani sering dianggap pilihan terakhir. Namun Leonardo membalik narasi itu dengan memberi contoh nyata.
Ia mencatat hasil panen, menghitung pengeluaran dan pemasukan, serta rutin menerapkan prinsip Good Agricultural Practices.
Hasilnya? Kebunnya bisa menghasilkan lebih dari Rp100 juta per tahun, cukup untuk hidup layak, menabung, dan memberi harapan pada para petani muda.
Ia juga memanfaatkan teknologi seperti YouTube, webinar, dan grup WhatsApp untuk terus belajar dan berbagi pengetahuan.