TITIKTEMU.CO - Muamar Leonardo bukan sekadar kembali ke kampung untuk bertani, tapi membawa pulang pengetahuan, cara pandang baru, dan visi besar untuk menghidupkan kembali desanya.
Ia hadir dengan semangat agroforestri—model pertanian yang memadukan aspek ekonomi dan ekologi secara berkelanjutan.
Menumbuhkan Harapan di Lahan Terlantar
Saat kembali ke Desa Batu Raja, Leonardo dihadapkan pada kenyataan: banyak lahan produktif berubah menjadi lahan tidur.
Pohon cengkeh yang dulu menjadi andalan kini rusak akibat hama dan iklim yang tidak menentu.
Kopi yang sempat menggantikan cengkeh pun tak bertahan lama karena kesuburan tanah semakin menurun.
Melihat kondisi itu, Leonardo tak tinggal diam. Ia memulai kebun agroforestri di lahan milik keluarganya.
Ia menanam alpukat, pala, durian, dan tanaman lain yang tidak hanya menghasilkan secara ekonomi tapi juga membantu memperbaiki ekosistem.
Ketika Keraguan Menyapa, Leonardo Tetap Melangkah
Memilih jalan pulang bukan hal mudah.
Teman-teman satu angkatannya banyak bekerja di kota besar, sementara Leonardo harus bergulat dengan gulma, hama, dan ketidakpastian cuaca.
Bahkan warga sekitar sempat skeptis dengan pendekatan agroforestrinya yang dianggap terlalu akademis.
Namun semangatnya tak padam.