pendidikan

Pro Kontra Program Barak TNI untuk Siswa di Jawa Barat, KPAI Soroti Kejelasan Tujuan

Minggu, 18 Mei 2025 | 08:00 WIB
Kegiatan siswa Jawa Barat yang mengikuti pendidikan karakter di Barak TNI. (Instagram.com/@dedimulyadi71)

TITIKTEMU.CO - Program pendidikan karakter yang mengikutsertakan siswa "bermasalah" di Jawa Barat ke barak milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) tengah ramai diperbincangkan di media sosial.

Gagasan ini diprakarsai oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dengan tujuan membentuk kedisiplinan para pelajar yang dinilai membutuhkan pembinaan khusus.

Sejak 5 Mei 2025, sebanyak 30 siswa dari Bandung sudah diberangkatkan ke Rindam III Siliwangi untuk menjalani pelatihan tersebut.

Bahkan, sebelumnya ada pula 39 siswa tingkat SMP yang dikirim ke Batalyon Armed 9 di Purwakarta.

Baca Juga: Program Siswa Nakal Masuk Barak TNI di Jawa Barat Disorot KPAI, Evaluasi dan Peran Orang Tua Jadi Sorotan

KPAI: 6,7 Persen Siswa Tak Tahu Mengapa Mereka Ikut Program

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program yang diberi nama “Pendidikan Karakter Pancawaluya.”

Dalam pengamatannya, ditemukan fakta bahwa 6,7 persen peserta mengaku tidak mengetahui alasan mereka dimasukkan dalam program ini.

“Sebagian siswa tidak memahami tujuan mereka diikutsertakan dalam kegiatan ini. Ini perlu menjadi perhatian kita bersama,” ujar Jasra dalam konferensi pers virtual, Jumat, 16 Mei 2025.

Baca Juga: Viral Rafathar Adukan Mama Gigi ke Dedi Mulyadi Gegara Malas Mandi, Dedi: Dijemput ke Barak Militer!

Pemilihan Peserta Dinilai Tidak Melibatkan Profesional

Jasra juga menyoroti bahwa proses seleksi peserta tidak melibatkan asesmen dari tenaga profesional seperti psikolog, tetapi hanya berdasarkan rekomendasi dari guru Bimbingan Konseling (BK).

Hal ini menurutnya berisiko menyebabkan ketidaktepatan dalam memilih siswa yang seharusnya mendapatkan pembinaan di lingkungan seperti Barak TNI.

“Bahkan kami menerima laporan bahwa siswa yang enggan ikut program diancam tidak naik kelas. Ini bentuk tekanan yang bisa berdampak buruk bagi anak,” tambahnya.

Halaman:

Tags

Terkini