“Alhamdulillah, usaha yang aku jalankan bisa membantu membiayai kebutuhanku dan mengurangi beban orang tua dan kakaku yang ada di desa. Karena di kampus, aku tidak mendapatkan beasiswa,” sebutnya.
Di tengah beragam aktivitas yang dijalani, termasuk menjadi volunteer di salah satu NGO, Rahmat mendapat informasi ada program beasiswa bernama MOSMA Kementerian Agama. Dia mendapat informasi ini dari dosennya di Prodi Tadris Bahasa Inggris.
MORA Overseas Student Mobility Awards (MOSMA) merupakan salah satu program implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka. MOSMA berbentuk program mobilitas fisik yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar di perguruan tinggi luar negeri. Program ini berlangsung selama 1 semester dengan durasi maksimal 6 bulan. Melalui program ini, mahasiswa mendapatkan kredit yang dapat dikonversi ke dalam SKS (Satuan Kredit Semester) di kampus asal.
Kesempatan ini tidak Rahmat sia-siakan. Dia bertekad untuk meraih kembali kesempatan kuliah di luar negeri. Tes TOEFL diikuti dan alhamdulillah hasilnya diatas rata-rata. Lulus seleksi administrasi, Rahmat lanjut ke tes wawancara dengan bahasa Inggris.
“Aku belajar dari youtube, teman, dan dosen dosenku mengenai wawancara. Tetapi waktu itupun masih sangat kurang bagiku karena baru ngumpulin bahan buat wawancara, eh jadwal wawancara itu udah keluar dan belum sempat latihan mock interview gitu. Al hasil aku wawancara dengan bahan mentah dan rasa deg degan yang tinggi,” kenangnya.
“Aku tidak berharap banyak sebetulnya, mengingat persiapanku tidak semaksimal biasanya. Berkat doa dan dukungan berbagai pihak, Alhamdulillah aku lulus dengan negara tujuan Amerika Serikat,” lanjutnya.
Baca Juga: Beasiswa MOSMA Berupa Satu Semester Di Luar Negeri , Dibuka Hari Ini
Sontak kampus heboh mendengar salah satu mahasiswanya lulus seleksi beasiswa kuliah di Amerika. Para dosen dan temen seperti tidak percaya. Apalagi saya mendapat beasiswa penuh untuk kuliah satu semester di Amerika. Kehebohan juga terjadi di desa. Banyak orang yang datang dan memberi ucapan selamat, penanda bangga ada anak daerah yang berhasil kuliah ke luar negeri.
“Aku menangis. Karena Bapak meninggal sebulan sebelum kabar bahagia ini datang. Padahal dia adalah orang yang paling mendukungku untuk bisa berkuliah di luar negeri. Alhamdulillah mama masih ada. Dia benar benar terharu. Air matanya berderai karena anak bungsunya bisa mewujudkan impiannya,” ucapnya terbata-bata.
Rahmat berharap program ini tidak hanya memberikan manfaat untuk dirinya, tapi juga sesama generasi muda di seluruh daerah Indonesia. “Dari mana kita berasal, di mana kita belajar, status ekonomi kita apa, semua itu tidaklah menjadi alasan bagi kita untuk tidak berprestasi. Sebab, sejatinya kitalah yang membangun batasan itu sendiri. Padahal kita belum mencoba sama sekali. Iya, akan ada masa di mana kita pasti menghadapi penolakan, kegagalan, tetapi itu semua hanyalah bagian atau satu kesatuan proses menuju keberhasilan,” tandasnya.
Artikel Terkait
Devina Patricia, Maba Lolos SNBT FH UNAIR Yang Juga Raih Beasiswa Penuh
Pendaftaran Beasiswa Santri 2023 Sudah Dibuka. Jangan Terlewat, Simak Jadwal dan Syaratnya
Pendaftaran Beasiswa Non Gelar Program MOSMA Ditutup Tinggal Tunggu Hasilnya, Lolos Engga?
Presiden Minta Penerima Beasiswa LPDP Untuk Pulang dan Berkarya di Tanah Air
Beasiswa Indonesia Bangkit Masuk Seleksi Wawancara 3.241 Mahasiswa