Pertama adalah Kurikulum Persiapan selama tiga bulan (Juli–September) yang bertujuan membangkitkan kembali semangat dan motivasi belajar siswa. Pasalnya, sekitar 80 persen siswa sebelumnya tidak bersekolah atau sudah bekerja, sehingga membutuhkan penguatan dasar kompetensi dan karakter.
Kedua, Kurikulum Inti yang dimulai sejak Oktober dengan mengacu pada Kurikulum Nasional, di mana proses pembelajaran dan evaluasi dilakukan seperti sekolah formal pada umumnya.
Ketiga, Kurikulum Keasramaan, yang menekankan pembinaan karakter. Sebagai sekolah berasrama, pendampingan dilakukan sejak sore hingga malam hari. Jika guru bertugas hingga pukul 16.00, pembinaan dilanjutkan oleh asisten asrama hingga pukul 21.00 melalui kegiatan harian, penegakan disiplin, dan ibadah berjemaah.
“Kami juga menerapkan sistem multi entry–multi exit bagi anak-anak lulusan SD dua hingga tiga tahun lalu yang belum melanjutkan sekolah,” jelas Deni.
“Mereka tetap masuk kelas VII, tetapi mendapatkan pendampingan sesuai kemampuan masing-masing,” tambahnya.
Baca Juga: Akses Jalan Rusak Pascabencana, Warga Bener Meriah Terpaksa Jalan Kaki Puluhan Kilometer
Sekolah yang Mengutamakan Akses Pendidikan
Meski sebagian siswa tinggal tidak terlalu jauh dari sekolah, seluruh peserta didik wajib menetap di asrama demi menjaga konsistensi pembinaan. Pernah ada siswa yang ingin bersekolah namun menolak tinggal di asrama, sehingga pihak sekolah memutuskan memindahkannya ke sekolah terdekat.
Prinsip sekolah tetap sederhana, yakni yang terpenting anak tetap mendapatkan pendidikan, di mana pun tempat belajarnya.
Proses seleksi siswa dilakukan melalui data Kementerian Sosial. Anak-anak dari kategori Data Kemiskinan (DCL 1 dan 2) akan disurvei oleh pendamping PKH, menjalani asesmen, serta pemeriksaan kesehatan sebelum ditetapkan oleh dinas sosial.
Pada tahun 2025, dari lebih 180 calon siswa, hanya 100 anak yang dapat diterima karena keterbatasan sarana dan sumber daya manusia.
“Banyak anak yang tanpa Sekolah Rakyat tidak memiliki pilihan lain. Jarak rumah jauh, kondisi ekonomi sulit, dan akses ke sekolah formal hampir tidak memungkinkan,” ungkap Deni.
Meski baru berjalan tiga bulan, sejumlah siswa mengaku mulai betah tinggal di asrama dan bahkan tidak sabar kembali ke sekolah setelah libur nasional. Para orang tua pun merasakan perubahan positif, terutama dari sisi kedisiplinan dan rutinitas ibadah anak-anak mereka.
Baca Juga: Viral Video Kepala BGN Main Golf Saat Bencana Sumatera, Dadan Hindayana Beri Klarifikasi
Renovasi 20 Sekolah Rakyat Tahap I di Jawa Barat Rampung
Di sisi lain, Kepala Satker Pelaksanaan Prasarana Strategis Jawa Barat, Tomi Hendratno, menyampaikan bahwa renovasi Sekolah Rakyat Tahap I di Jawa Barat telah selesai di 20 lokasi, termasuk SRMP 11 Bandung Barat.
Artikel Terkait
Update Terbaru Klasemen Medali SEA Games 2025: Indonesia Kokoh di Posisi Kedua, Thailand Tak Tertandingi
Viral Video Kepala BGN Main Golf Saat Bencana Sumatera, Dadan Hindayana Beri Klarifikasi
Akses Jalan Rusak Pascabencana, Warga Bener Meriah Terpaksa Jalan Kaki Puluhan Kilometer
BPK Soroti Aset Proyek PLN Rp1,97 Triliun Menganggur, Dipicu Perubahan RUPTL dan Proyek Mangkrak
Bendungan Ciawi–Sukamahi Terbukti Redam Banjir Jakarta hingga 27 Persen