Kini, bekas papan rumah tersebut masih tersimpan rapi di depan rumah anaknya. Yarnita sengaja tidak ingin menjualnya, sebagai kenangan bahwa rumah itulah tanda perjuangannya untuk mengubah nasib supaya para anak dan cucunya tahu bagaimana awal kehidupan para transmigran di masa lalu.
Artikel Terkait
Ini Kehebatan UGM Mendukung Penderita Autis Mengejar Mimpinya Di Fakultas Peternakan
Kompetisi Panahan Nasional Series 2 di UGM Bukan Hanya Kompetisi Fisik
Kerennya Mahasiswa UGM Ikut Forum Pertukaran Budaya Pemuda ASEAN
Gigih, Putri Guru Honorer Dari NTB Yang Diterima Masuk UGM Tanpa Biaya UKT
Kisah Anak Petani Singkong Toraja Dapat Kuliah Gratis di UGM