TITIKTEMU.CO, Nikita Nur Hijriyati penyandang disabilitas Hard of Hearing dan minor cerebral palsy membuktikan , jika tidak ada alasan bagi seorang disabilitas untuk tidak melanjutkan studi.
Ia diwisuda bersama 1422 wisudawan wisudawati Universita gajah Mada lainnya pada Upacara Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode III Tahun Akademik 2023/2024.
"Saya bersyukur bisa lulus dan diwisuda dari Program Studi D4 Pembangunan Ekonomi Kewilayahan. Alhamdulilah,” katanya terbata.
Cukup berliku upaya Nikita dalam menyelesaikan studi. Sebagai penyandang hard of hearing dan minor celebral palsy, ia mengaku mengandalkan lip reading atau membaca gerak bibir dalam perkulihan. Visual dan auditori menjadi tipe gaya belajarnya selama 6 tahun 8 bulan.
Ia pun merasa bersyukur karena selama perkulihan para dosen memperlakukannya dengan baik. Para dosen memberi jalan untuk memudahkan mengikuti perkuliahan, terutama terkait dengan listening dalam praktikum bahasa inggris dan tugas-tugas presentasi.
Baca Juga: Sandiaga Uno Tantang Mahasiswa Untuk Bisa Menjadi Talenta Digital
“Para dosen baik, dan memaklumi tulisan tangan saya buruk karena tidak bisa menulis rapi,” akunya.
Nikita mengaku mendapatkan pengalaman berkesan dan tidak akan pernah ia lupakan yaitu saat dirinya mengikuti Kuliah Kerja Nyata. Meski KKN secara online, ia ditunjuk menjadi koordinator mahasiswa tingkat sub unit (kormasit).
Dengan penunjukan itu ia membuktikan bahwa seorang disabilitas mampu menjadi koordinator dan berkomunikasi dengan masyarakat walaupun dalam kondisi pandemi. Tidak hanya itu, iapun selama kuliah aktif berkegiatan di UKM Peduli Difabel untuk memperjuangkan pendirian Unit Layanan Disabilitas yang tidak lama lagi akan diresmikan.
“Para dosen di kampus sebenarnya juga mengajak saya terlibat kegiatan asistensi, seperti akreditasi prodi dan penelitian, dan saya sangat bersyukur dengan banyak aktif di berbagai kegiatan, saya pun berkesempatan mendapat Beasiswa Pertamina Sobat Bumi pada tahun 2019,” terangnya.
Perjalanan Nikita di masa lampau tidak selalu mulus. Saat duduk di bangku kelas XI SMA ia pernah dikeluarkan dari kelas ekonomi pada saat ulangan harian. Hal ini dikarenakan guru pengampu tidak tahu jika dirinya tidak bisa mendengar dan tidak bisa menulis cepat.
Peristiwa ini begitu melukainya dan membuatnya sempat membenci pelajaran ekonomi. Di sisi lain ia munyukai pelajaran geografi yang pada akhirnya menuntunnya memilih Program Studi D4 Pembangunan Ekonomi Kewilayahan UGM.
“Sempat saya benci mata pelajaran ekonomi. Namun seiring setelah kuliah, saya menjadi suka ekonomi. Terima kasih untuk Kak Jesita Mapres FEB angkatan 2016 telah membuat saya sadar bahwa ilmu ekonomi ini amat luar biasa,” ungkapnya.
Baca Juga: Meski Lulus Sarjana Tercepat di UGM, Namun Edo Mengaku Menikmati Proses Perkuliahan
Nikita terlahir sudah menyandang minor celebral palsy, dan saat duduk di bangku Sekolah Dasar pendengarannya mulai mengalami gangguan karena sakit. Bahkan sewaktu kecil hampir tidak bisa berjalan, dan ia baru bisa berjalan secara normal pada umur 2 tahun.
Artikel Terkait
UGM Dorong Dosen Untuk Gemar Menulis Buku, Ini Kiat Dan Tips Menulis Buku Akademik
Ada Inovokasia 2024 Di UGM , Membuat Tenaga Ahli Trampil Inovatif Dan punya Daya Saing
UGM Wisuda 1.423 Lulusan Program Sarjana dan Sarjana Terapan, Apa Pesan Rektornya ?
Pesawat Tanpa Awak Karya Guru Besar UGM , Tidak Kalah Dengan Buatan Luar Negeri
Meski Lulus Sarjana Tercepat di UGM, Namun Edo Mengaku Menikmati Proses Perkuliahan