opini

Percepatan Teknologi Hingga Tahun 2030, Akan Akibatkan Sekitar 2 Miliar Pegawai Kehilangan Pekerjaan

Jumat, 20 Agustus 2021 | 13:52 WIB
Prof Rhenald Kasali (Rumah Perubahan)


Semua harus serba cepat. Dulu, Di era Dunia 1.0, petani cukup panen beras sekali dalam setahun. Kalau kebanyakan, habis digerogoti tikus dan kutu. Untuk membuat  vaksin cacar air saja, dunia sabar menanti selama 28 tahun.

Sejak tahun 1960, kita memasuki peradapan Dunia 2.0. Penduduk bumi melewati angka 3 miliar dan petani dituntut panen beras dua kali setahun. Kalau tidak maka bencana kelaparan merebak. Panen dua kali dan alat penyimpanan dilahirkan. Kulkas, gudang berpendingin, makanan olahan dan sebagainya.

Tapi sejak tahun 1999, kita memasuki era Dunia 3.0. Beragam cara harus dicoba agar panen padi bisa dilakukan 3 kali setahun supaya bisa memberi makan penduduk yang sudah melewati 6 miliar.

Dan hari ini penduduk bumi sudah mendekat 8 miliar. Maka bukan hanya ayam, bulunya pun harus diolah jadi makanan. Bahkan daging sapi tak cukup lagi dihasilkan dari ternak, tapi juga dari lab. Bayangkan apa yang akan terjadi?

Job Lost dan Useless Generation 

Maka jangan heran bila McKinsey mengatakan, bahwa ada sekitar 25 juta pekerjaan yang akan hilang setelah pandemi berlalu ini di Indonesia. Walaupun akan ada 35-45 juta pekerjaan baru yang akan muncul.

Tetapi masalahnya, saya melihat, 35-45 juta pekerjaanbaru itu bisa saja diisi oleh generasi berikutnya, bukan oleh 25 juta orang yang kehilangan pekerjaan tadi.

Mengapa begitu? Jawabnya adalah karena setiap zaman membutuhkan bisnis proses, bisnis model dan ketrampilan yang berbeda. Demikian juga manusia yang berbeda. Ibarat ikan yang biasa hidup di sungai, kini manusia harus biasa memetik rambutan di atas pohon.

Maka mereka yang frustasi dengan transformasi SDM, seperti merasa sia-sia, melatih ikan menjadi monyet. Artinya ikan bisa saja jobless. Yang bisa memanjat dan memetik rambutan dan kelapa itu adalah spesies lain.

PBB tak mau kalah. Salah satu komisinya – On Financing Global Opportunity – The Learning Generation (Oktober 2016) melaporkan, pencepatan teknologi hingga tahun 2030, akan mengakibatkan sekitar 2 miliar pegawai di seluruh dunia kehilangan pekerjaan. Tak mengherankan bila kelak akan banyak anak-anak yang bertanya pada orang tua, “mama, bila aku besar, nanti aku bekerja di mana?”

Otot Diganti Robot

Perlahan-lahan teknologi menggantikan tenaga manusia. Tak apa kalau itu membuat kita menjadi lebih manusiawi. Semisal kuli angkut pelabuhan yang kini diganti crane dan forklift. Polantas yang kini diganti dengan kamera pengintai yang dikendalikan para pegawai dinas perhubungan.

Tak hanya di pelabuhan dan di traffic light, di supermarket pun anak-anak muda beralih dari tukang panggul menjadi penjaga di control room. Itu sebabnya negara perlu melatih ulang SDMnya secara besar-besaran, dan menyediakan pekerjaan alternatif seperti pertanian atau jasa-jasa lain yang masih sangat dibutuhkan. Itupun harus pakai cara baru kalau mau kompetitif.

Tetapi teknologi tak hanya mengganti otot. Manusia juga menggunakan teknologi untuk menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang berbahaya.

Di sini kita sudah melihat robot dipakai untuk memasuki rumah yang dikuasai teroris dan memadamkan api.

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB