opini

Percepatan Teknologi Hingga Tahun 2030, Akan Akibatkan Sekitar 2 Miliar Pegawai Kehilangan Pekerjaan

Jumat, 20 Agustus 2021 | 13:52 WIB
Prof Rhenald Kasali (Rumah Perubahan)

TITIKTEMU.CO

PERUBAHAN
Oleh : Prof. Rhenald Kasali

Mungkin Anda sempat menerima beragam video tentang kemajuan yang dicapai oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Ya, kini AI bukan hanya bisa mengganti customer service dengan mengajak ngobrol pelanggan secara intim, tetapi juga bisa diperintah untuk membuat lukisan Rembrant dan puisi indah untuk dimuat di media utama.

Pada saat pandemi baru dimulai, saya tengah berada di Silicon Valley menghadiri undangan yang diberikan murid-murid saya yang berkantor di sana. Saat itu saya ditunjukkan inisiatif-inisiatif mereka yang kadang membuat saya terkejut. Sensor dipasang-di mana-mana sehingga segala hal bisa terdeteksi dengan mudah.

Di baju atau pakaian dalam untuk mendeteksi kesehatan, di jalan untuk mendeteksi bahaya konsumsi atau bahaya lalulintas, di jam tangan untuk mendeteksi gaya hidup, bahkan di udara untuk mendeteksi perubahan iklim.

Di atas pesawat yang membawa saya kembali dari San Fransisco, saya tanpa menggunakan masker karena di semua toko dan supermarket Amerika, pada bulan Februari 2020, barangnya lenyap.

Saya sempat menanyakan pada awak kabin, tapi ia sendiri mengaku tidak kebagian. Jadi apa boleh buat. Saya pikir kelak ini akan juga dialami di negeri sendiri.

Dan itu terjadi. Bukan saja masker, APD untuk para dokter dan nakes pun tak ada. Tapi untungnya sektor UMKM kita cepat bangkit. Barangnya hanya kosong satu dua bulan saja.

Itulah bedanya UMKM kita dengan UMKM Amerika yang sudah serba offshore dan mengandalkan global supply chain secara besar-besaran. Yang menyebalkan  cuma regulator kita saja, yang menghambat perijinan dan standard kualitas yang seakan-akan buatan lokal selalu kalah dengan buatan asing.
Untung saja, presiden cepat tanggap dan meminta kemenkes memberi perijinan lewat satgas penanganan Covid.

Di Awal Peradaban AI

Di atas pesawat, pikiran saya melanglang kemana-mana memikirkan apa yang saya lihat di Silicon Valley. “Kita baru saja berada di tahap awal
Peradapan AI.” Ya, ini baru tahapan awal. Belum seberapa, tapi sudah apa-apa. Sudah apa-apa karena ribuan jenis pekerjaan hilang.

Deretan teknologi dunia yang muncul belakangan ini, dipercaya berpotensi menghapuskan pekerjaan banyak orang. Untungnya pandemi bisa sedikit menahan nafsu para investor, yang ingin buru-buru menarik keuntungan. Jadi selama pandemi banyak dikeluarkan teknologiyang bisa memudahkan kita bekerja atau belajar dari jarak jauh.

Jadi agresivitas mereka sedikit terhambat. Kalau tidak, entahlah gejolak politik dan sosial apa yang bakal terjadi.


Padahal ke depan,ketrampilan-ketrampilan anak-anak kita yang diperoleh dengan susah payah bisa saja menjadi tak berguna (useless). Ini betul-betul mengkhawatirkan. Dokter sudah harus bisa bekerja memakai teknologi, scientist harus bisa berkolaborasi dalam open science.

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB