Apakah ia sanggup? Publik menunggu.
Jika Sri Mulyani adalah jangkar yang menjaga kapal agar tidak hanyut, maka Purbaya dituntut menjadi layar yang berani menantang angin.
Baca Juga: Mobil Listrik Premium Hyundai Ioniq 9 Siap Masuk Indonesia, Berapa Harganya?
Dalam mencari arah baru, kita tak bisa berjalan tanpa pelajaran sejarah.
Sebagaimana ditulis Carmen M. Reinhart dan Kenneth S. Rogoff dalam This Time is Different: Eight Centuries of Financial Folly (2009), krisis ekonomi bukanlah anomali.
Ia siklus yang berulang: euforia utang, keyakinan bahwa “kali ini berbeda,” lalu kejatuhan yang menghantam rakyat jelata lebih dulu.
Namun, di balik catatan pahit itu terselip pelajaran tentang daya tahan.
Pertumbuhan di masa sulit tidak lahir dari sihir kebijakan singkat, melainkan dari disiplin fiskal, restrukturisasi utang, dan keberanian menghidupkan kembali kepercayaan publik.
Satu formula sederhana mengingatkan kita:
Pertumbuhan Ekonomi (Y) = Konsumsi (C) + Investasi (I) + Belanja Pemerintah (G) + Ekspor Bersih (X–M).
Artinya, negara perlu menggerakkan konsumsi rakyat kecil lewat bantuan sosial, merangsang investasi dengan kepastian hukum.
Ia menjaga belanja negara yang tepat sasaran, serta memastikan ekspor lebih tinggi daripada impor.
Pesan kontemplatifnya jelas: ekonomi bukan sekadar angka, melainkan psikologi kolektif.
Harapan adalah modal, dan integritas kebijakan adalah bahan bakarnya.
Di sinilah masa depan ekonomi Indonesia ditentukan, bukan hanya oleh sosok menteri. Ia melainkan oleh kolaborasi lintas sektor: pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan rakyat.
Tanpa sinergi, pertumbuhan hanya menjadi slogan, tetapi dengan keberanian kolektif, stabilitas dan akselerasi dapat menyatu menjadi fondasi kemakmuran berkelanjutan.
Baca Juga: Industri Rokok di Ujung Tanduk! Daya Beli Merosot, Ribuan Buruh Terancam PHK
Filosofi besar dari pergantian ini sederhana namun dalam: setiap era punya jantungnya sendiri.