Ia teknokrat tangguh, simbol integritas, sekaligus cermin bahwa kepemimpinan bukan soal jenis kelamin, melainkan soal keberanian menanggung beban bangsa.
Sri Mulyani dapat dipandang sebagai lentera ketangguhan ekonomi Indonesia, dengan tiga capaian monumental.
Pertama, ia menjaga stabilitas makroekonomi di tengah krisis. Jejaknya terbentang dari guncangan finansial global 2008 hingga pandemi COVID-19.
Pertumbuhan tetap bertahan positif ketika banyak negara lain terjerembab resesi.
Kedua, ia menggulirkan reformasi besar dalam perpajakan dan tata kelola anggaran.
Program pengampunan pajak melampaui ekspektasi, menghadirkan transparansi, sekaligus menopang penerimaan negara secara berkelanjutan.
Ketiga, ia berhasil menekan defisit APBN kembali di bawah 3%.
Sebuah langkah yang mempercepat pemulihan pascapandemi, dan mengukuhkan kredibilitas fiskal Indonesia di mata dunia.
Prestasi ini tidak sekadar angka, melainkan refleksi etis dari kepemimpinan teknokratis yang berakar pada integritas.
Dalam dirinya, disiplin fiskal bertemu dengan keberanian moral.
Baca Juga: Profil Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Pengganti Sri Mulyani dan Kekayaannya
Namun setiap era punya jantungnya sendiri. Setelah lebih dari satu dekade, aura itu mulai memudar.
Ketegasan anggaran yang dulu menyelamatkan negeri, kini dianggap kaku menghadapi tantangan zaman.
Ekonomi berjalan lamban, daya beli melemah. Stabilitas tak lagi cukup untuk mengenyangkan meja makan rakyat.
Di pasar Solo, seorang ibu penjual sayur berbisik: “Harga beras naik, pembeli makin sepi.”