• Jumat, 1 Juli 2022

Ini Keutamaan Puasa Arafah. Salah Satunya Dapat Menghapus Dosa Setahun yang Lalu dan Akan Datang

- Jumat, 24 Juni 2022 | 05:25 WIB
Keutamaan Puasa Arafah menjelang Idul Adha. Ilustrasi (Pixabay)
Keutamaan Puasa Arafah menjelang Idul Adha. Ilustrasi (Pixabay)

TITIKTEMU.CO - Puasa Arafah merupakan salah satu amalan sunnah yang dilakukan oleh umat Islam. Puasa ini juga sering dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Puasa Arafah dilaksanakan menjelang hari raya Idul Adha tanggal 9 Dzulhijjah. Salah satunya keutamaannya adalah puasa Arafah diyakini akan menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Baca Juga: Razman Arif Nasution Pertimbangkan Buat Laporan Polisi Terkait Promo Minuman Beralkohol Holywings

Karena puasa Arafah memiliki keutamaan begitu besar, karenanya para ulama memasukkan puasa Arafah ini ke dalam puasa sunnah yang sangat dianjurkan (muakkad).

Begitu banyak keutamaan-keutamaan dalam Puasa Arafah ini. Seperti yang disampaikan

Dikutip Titiktemu.co dari laman NU, dalam sebuah riwayat Muslim Rasulullah SAW bersabda: “Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun yang telah lalu dan akan datang, dan puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim).

Baca Juga: Jelang Pilpres 2024 Nahdliyin Jadi Rebutan. Cak Imin Serang Yenny Wahid

Mayoritas ulama bersepakat bahwa dosa yang dapat dihapus oleh amalan puasa hari Arafah 9 Dzulhijjah ini adalah dosa kecil.

Sementara Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim-nya menjelaskan sebagai berikut: “Demikian juga ‘Puasa hari Arafah 9 Dzulhijjah menjadi kafarah (dosa) dua tahun, dan hari Asyura menjadi kafarah (dosa) setahun. Bila seruan 'amin'-nya berbarengan dengan 'amin' para malaikat, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.’ Jawaban yang dikedepankan para ulama adalah bahwa setiap satu dari dari semua amal yang tersebut itu layak menjadi kafarah. Jika terdapat dosa kecil yang mesti dihapus, maka amal itu akan menghapusnya. Tetapi jika tidak berhadapan dengan dosa kecil tetapi tidak dosa besar, maka amal itu akan menjadi catatan kebaikannya dan mengangkat derajatnya. Jika amal ibadah itu berhadapan dengan satu atau sekian dosa besar dan tidak dosa kecil, kita berharap amal ibadah itu dapat meringankan siksa atas dosa besar tesebut. Wallahu a’lam.” (Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim).

Halaman:

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: NU Online

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X