"GOLEK JENENG" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Selasa, 7 Juni 2022 | 20:21 WIB
Berbagai macam baliho. Ilustrasi (Wikimedia.common)
Berbagai macam baliho. Ilustrasi (Wikimedia.common)

Kalau diberi nama “Utama”, orangtua berdoa anaknya akan menjadi orang yang mempunyai keutamaan. Dengan memberi nama anak lelakinya “Sadewa” (Sahadeva) orangtua berdoa agar anaknya diberkahi Sang Pencipta. Karena itulah arti nama “Sadewa”.

Anak yang diberi nama “Darsana” membawa doa dan harapan orangtuanya menjadi orang yang bisa menjadi teladan hal-hal yang baik dalam hidup. Meskipun ada yang menyimpang.

***

Apa Emak ingin populer, sehingga meninggalkan nama pemberian orangtuanya? Ah, popularitas macam apa yang dicari. Emak kan tidak butuh itu, tidak seperti mereka yang di musim golek jeneng berjuang mati-matian cari nama.

Baca Juga: Atalia: Kita Tidak Pernah Tahu Doa Siapa yang Mampu Menembus Langit…

Mereka cari nama, bukan karena belum punya nama atau namanya hilang atau namanya kurang bagus, atau namanya kurang menjual, misalnya. Bukan! Tetapi karena alasan lain.

Mereka “cari nama” karena belum populer. Dengan popularitas itu, mereka berharap impiannya, keinginannya, cita-citanya akan tercapai. Misalnya ingin berkuasa, ingin merebut atau meraih kekuasaan, ingin menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Tentang golek jeneng itu ada pepatah dalam bahasa Jawa yang berbunyi demikian: goleka jeneng nembe golek jenang atau aja golek jenang ananging goleka jeneng_. Jenang diibaratkan sebagai kekuasaan, sedangkan jeneng itu popularitas.

Baca Juga: Kemenag Pastikan Jemaah Haji yang Wafat di Arab Saudi Akan Dibadalhajikan

Kalau sudah punya jeneng (populer) akan lebih mudah golek jenang. Tapi, golek jeneng itu tidak mudah, tidak bisa mendadak, tidak bisa instan seperti bikin kopi atau teh atau mi instan. Semua perlu usaha keras dalam segala hal, perlu ketekunan, kejujuran, prestasi, kerendahan hati, dan sebagainya.

Ibarat pepatah: sapa sing tekun sanadyan nganggo teken mesthi tekan. Kalimat tersebut secara harfiah berarti “Siapa yang tekun, walau memakai tongkat, pasti akan sampai”

Artinya kurang lebih, siapa yang tekun walau dengan susah payah sampai memakai tongkat atau walau harus menempuh jalan panjang atau waktu yang panjang hingga tua maka akhirnya pasti sampai atau tercapai tujuannya.

Baca Juga: CERBUNG: Inspirasi Melankolis SEBATAS AURORA Oleh: Triana Rahayu. Episode I

Dengan kata lain jeneng (popularitas) itu tidak akan didapat hanya, misalnya pasang baliho besar-besar di mana-mana, kerap muncul di media sosial, bikin pernyataan kontroversial, menemui para pemimpin agama, berfoto dengan presiden, rajin blusukan, menjadi pembicara di sana-sini, dan memberikan bantuan sembako. Tetapi harus dengan kerja keras nyata dan jujur yang hasilnya dirasakan, berguna bagi masyarakat banyak, bukan bagi dirinya sendiri, atau kelompoknya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: triaskredensialnews.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X