"Aku ingin menikahimu."
Aku menatap Damian dengan tatapan terkejut. Aku tidak mengerti dengan ucapannya. Dia mau menikahiku? Apa dia sedang mabuk? Aku rasa tidak.
"Sabrina. Aku sekarang sudah tau maksud tujuanmu mau menikah dengan kakakku. Dan kamu sudah sampai dalam tujuanmu, maka apa yang masih kamu pertahankan lagi?" Damian meraih tanganku dan menggenggamnya. "Aku siap menikahimu jika kamu sudah bercerai dengan Jordan," lanjutnya.
Aku menarik tanganku. "Tidak, Damian. Aku tidak mau berpisah dengan Jordan." Aku menolak.
"Kenapa? Bukankah kamu sudah sukses membuat Jordan membantuku? Bukankah kamu sudah sukses membuat Jordan bisa berjalan kembali? Bukankah kamu sudah sukses membantu Jordan untuk menyemangatinya agar tidak putus asa? Apa lagi yang belum kamu capai?" Damian menatapku serius.
Baca Juga: Jogja Seru! ArtJog 2022 Resmi dibuka, Ini Harga Tiket dan Jadwalnya
Aku menggeleng. Aku masih tidak habis pikir dengan ucapan Damian. Kenapa dia berkata seperti itu.
"Kamu baik, Sabrina. Aku butuh wanita sepertimu untuk di sampingku. Aku memang salah pernah menolakmu, tapi kali ini, aku serius ingin menikah denganmu."
"Maaf, Damian. Aku sudah terlanjur cinta dengan kakakmu. Jadi jangan ganggu aku lagi." Aku beranjak dari tempat dudukku untuk pergi meninggalkan Damian, tapi langkahku terhenti ketika seorang pelayan menabrakku dan tumpahlah kopi panas di tubuhku. Rasa panas menyerap ke pori-pori kulitku. Aku langsung mengibas pakaianku yang tertumpah kopi panas.
"Sabrina." Damian menghampiriku, memastikan keadaanku.
Aku menahan sakit akibat tumpahan kopi panas itu. Aku masih mengibas pakaianku agar rasa sakit itu menghilang. Kudengar Damian memarahi pelayan kafe karena sudah ceroboh menabrakku.
Aku akan berlalu menuju toiler untuk membersihkan pakaianku, tapi karena lantai licin akibat tumpahan kopi membuatku terpleset, tapi Damian sigap menangkap tubuhku dan tubuhku jatuh dalam pelukannya. Aku bergegas untuk berdiri sebelum menjadi tontonan pengunjung kafe. Aku berlalu pergi dari kafe itu. Aku merasa malu dengan kejadian itu.
Baca Juga: Mengaku Bipolar, Medina Zain Dinyatakan Sehat, Kejaksaan Langsung Memproses Hukum Medina
"Bunda."
Aku menatap Dania yang sedang berdiri di pintu masuk bersama dokter Vera. Ada dokter Vera di sini. Sejak kapan dia berada di sini?