Kata Paus Fransiskus dalam Ensiklik Fratelli Tutti (Semua Bersaudara), Politik Kemanusiaan adalah politik berbasiskan amal kasih. Politik ini merangkul semua pihak untuk memromosikan kemanusiaan. Kemanusiaan adalah pemikiran dan tindakan yang sangat beradab, dilaksanakan untuk memuliakan ras manusia secara keseluruhan.
Baca Juga: Erick Thohir Berada Paling Atas Bursa Cawapres, Selisih Tipis Dengan Ridwan Kamil
Bukankah kemanusiaan lebih penting dari politik, kata Gus Dur. Politik tanpa kemanusiaan akan melahirkan kekuasaan yang tidak peduli bahkan dapat menindas kemanusiaan.
***
Memanusiakan manusia. Itu kata kuncinya. Kata kunci dari (seharusnya) setiap kebijakan dan tindakan dari pemerintah, lembaga-lembaga pemerintah, dan lembaga-lembaga non-pemerintah. Sebab, sejatinya makna Pancasila adalah memanusiakan manusia.
Kata Uskup Agung Semarang yang juga pahlawan nasional, Mgr Albertus Soegijapranata (1940), kemanusiaan itu satu, bangsa manusia itu satu. Kendati berbeda bangsa (suku dan etnik), asal-usul, dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar (umat manusia).
Baca Juga: Wah, RTi Bertahan Siaran di Indonesia Selama 67 Tahun
Memanusiakan manusia juga menjadi ajaran semua agama. Agama apapun tidak ada yang membenarkan tentang penindasan makhluk hidup. Semua agama menitikberatkan kepada kemanusia. Karena dengan rasa kemanusiaan, manusia mendapatkan kebebasan untuk hidup.
Tidak ada satu pun agama di dunia ini yang mengajak umatnya untuk menyebarkan dan melakukan kekerasan. Bila ternyata ada, yang salah bukanlah agamanya, tetapi bisa saja orang yang ada di dalamnya memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan pribadinya.
Baca Juga: Ada Beasiswa Indonesia Bangkit , 5 Juni Pendaftarannya
Namun, harus diakui bahwa pada suatu masa, "surga kecil" yang luasnya sekitar enam kali Pulau Jawa dengan sekitar 300 suku itu kehilangan sentuhan kemanusiaan. Manusia dan kemanusiaan, kurang mendapat perhatian.
Pada ketika itu, politik kekuasaan mendominasi atau bahkan satu-satunya yang hidup. Manusia dan kemanusiannya kurang (tidak) terawat. Maka di "surga kecil" itu laksana sebidang lahan "tumbuh onak dan dud, semak-belukar."
Dalam Jurnal Kajian Lemhanas (edisi 37, Maret 2019) Laksamana Muda TNI (Purn.) Untung Suropati menulis setidaknya terdapat lima isu strategis yang menjadi akar masalah Papua, yaitu sejarah integrasi Papua ke Indonesia; kekerasan politik dan pelanggaran HAM; kegagalan pembangunan Papua; inkonsistensi kebijakan Jakarta; dan strategi penanggulangan gangguan keamanan.
Baca Juga: INFO HAJI 2023 : Cuaca Ekstrem Di Makkah, Perhatikan Ini