Pada akhirnya, “kartu kuning” untuk Dedi Mulyadi dapat dibaca sebagai pengingat bahwa pemimpin boleh kreatif, cepat, bahkan berani berbeda.
Tetapi ketika keputusan sudah menyentuh hukum dan tata kelola negara, ada garis yang tetap harus dihormati.
Sebab pemimpin yang kuat bukan hanya yang paling sering muncul di layar. Ia juga yang mampu membuat sistem tetap berjalan bahkan ketika kameranya sudah dimatikan.***