Data yang dihimpun IESR menunjukkan penjualan motor listrik pada kuartal pertama 2025 turun sekitar 80 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa minat pasar masih sangat dipengaruhi oleh dukungan kebijakan.
Saat Negara Tetangga Terlihat Lebih Menarik
Persaingan industri kendaraan listrik di kawasan Asia Tenggara semakin ketat.
Setiap negara berlomba menarik investasi melalui kombinasi insentif, regulasi yang jelas, dan dukungan industri yang konsisten.
Dalam situasi seperti itu, ketidakpastian bisa menjadi kelemahan.
IESR mengungkap adanya indikasi beberapa produsen otomotif yang awalnya mempertimbangkan Indonesia justru memilih memindahkan fasilitas kendaraan listrik mereka ke Vietnam. Negara tersebut dinilai menawarkan lingkungan bisnis yang lebih mendukung pertumbuhan industri EV.
Jika tren seperti ini terus berlanjut, Indonesia berisiko kehilangan momentum di tengah perlombaan membangun industri masa depan.
Baca Juga: Jude Bellingham Bersinar di Piala Dunia 2026, Thomas Tuchel Sebut Jadi Pembeda Timnas Inggris
Kendaraan Listrik Bukan Hanya Isu Lingkungan
Sering kali kendaraan listrik dipromosikan sebagai solusi untuk mengurangi emisi.
Padahal manfaatnya tidak berhenti di sana.
Penggunaan kendaraan listrik juga berkaitan dengan ketahanan energi nasional. Semakin banyak kendaraan yang menggunakan listrik, semakin kecil ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak.
Artinya, tekanan terhadap anggaran negara dan risiko fluktuasi harga energi global dapat berkurang dalam jangka panjang.
Karena itu, percepatan adopsi kendaraan listrik sebenarnya bukan hanya agenda lingkungan, tetapi juga strategi ekonomi.
Mungkin yang Dibutuhkan Bukan Sekadar Insentif
IESR menilai insentif tetap penting, tetapi pendekatannya perlu diperbarui.