Ia juga menyebut era IPTN di masa Presiden Soeharto sebagai fondasi kuat perkembangan teknologi nasional—bukan proyek kereta cepat yang justru bersandar pada teknologi asing.
“Indonesia dulu pernah main di 30 ribu kaki. Sekarang balik ke 0 kaki, merayap lagi,” sindir Rocky.
Baca Juga: Silent Reset: Cara Diam-Diam Memperbaiki Hidup Tanpa Perlu Mengumumkan Apa Pun
Dugaan Ada Motif Geopolitik: Relasi dengan China?
Rocky kemudian menyinggung dugaan bahwa proyek Whoosh sekaligus menjadi cara untuk mempererat hubungan Indonesia dengan China.
Menurutnya, publik wajar mempertanyakan apakah proyek ini sarat dengan mark up atau kepentingan geopolitik yang lebih besar.
“Orang merasa ini bagian dari cawe-cawe membangun relasi dengan China,” ujar Rocky.
Sri Radjasa Chandra, mantan anggota BIN yang menjadi host podcast, menguatkan pandangan tersebut.
Menurutnya, Whoosh kini bukan sekadar soal pembiayaan atau utang, tetapi pintu masuk do
minasi China pada sektor strategis tertentu.
Jepang Disebut Punya Alasan untuk Kecewa
Rocky juga menyinggung bahwa Jepang sebenarnya adalah negara yang paling layak kecewa dengan proyek ini.
Pasalnya, studi dan riset awal kereta cepat dikerjakan oleh Jepang, namun implementasinya justru diberikan kepada China.
Pernyataan ini sejalan dengan pendapat akademisi Sulfikar Amir, yang menyebut bahwa China hanya melakukan kajian berdasarkan studi Jepang tanpa turun langsung ke lapangan.
“Mereka mempelajari studi kelayakan Jepang, lalu membuat proposal kelayakan baru dari studi itu,” kata Sulfikar di podcast Forum Keadilan TV.