nasional

Ahli ITB Ungkap Penyebab Banjir Bandang Sumatera: Siklon Senyar dan Kerusakan Lingkungan

Sabtu, 29 November 2025 | 14:00 WIB
Banjir Bandang Sumatera: Kombinasi Cuaca Ekstrem dan Rusaknya Lingkungan (Kolase tangkapan layar Instagram @khendra dan @rizalhakim_punyer)

TITIKTEMU.CO - Fenomena banjir bandang serta longsor yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara terjadi bukan tanpa sebab.

Menurut para peneliti dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB), bencana besar ini muncul akibat interaksi kompleks antara kondisi atmosfer, geospasial, dan menurunnya daya tampung wilayah.

Ketua Program Studi Meteorologi ITB, Dr. Muhammad Rais Abdillah, menjelaskan bahwa wilayah Sumatera bagian utara saat ini sedang berada pada puncak musim hujan.

“Daerah Tapanuli memang punya pola hujan tahunan yang tinggi, dan saat ini berada tepat di puncak curah hujannya,” ungkap Rais pada Jumat (28/11/2025).

Curah hujan yang turun dalam periode tersebut masuk kategori sangat lebat, bahkan ekstrem.

Baca Juga: Guncangan di PBNU: Gus Ipul Dicopot dari Sekjen, Rotasi Besar Diumumkan di Tengah Konflik Internal

Curah Hujan Ekstrem: Jauh Melampaui Normal

Data lapangan dan laporan media menunjukkan beberapa wilayah mencatat curah hujan lebih dari 150 milimeter.

BMKG bahkan mencatat sejumlah titik mengalami hujan di atas 300 milimeter, yang termasuk kategori hujan ekstrem.

Sebagai pembanding, curah hujan ekstrem pada Januari 2020 yang menyebabkan banjir besar di Jabodetabek mencapai sekitar 370 milimeter dalam satu hari.

Baca Juga: Purbaya Pasang Target 1 Tahun: Reformasi Bea Cukai Dimulai, Ancaman Pembekuan Mengintai!

Kehadiran Siklon Senyar Perkuat Hujan Lebat

Rais menjelaskan bahwa kondisi ekstrem semakin dipicu oleh terbentuknya pusaran siklonik di sekitar Sumatera bagian utara.

“Pada 24 November sudah terlihat adanya sistem berputar dari Semenanjung Malaysia. Dalam meteorologi, ini disebut vortex, meskipun saat itu masih bibit,” jelasnya.

Halaman:

Tags

Terkini