“Kepercayaan orang tua telah dikhianati. Rumah kedua anak-anak berubah menjadi tempat penuh ketakutan,” ujarnya.
Saatnya Melindungi Santri, Bukan Melindungi Citra
Perdebatan soal "isu dilebih-lebihkan" sejatinya mengaburkan inti masalah.
Publik tidak sedang menyerang pesantren sebagai lembaga pendidikan, tetapi menuntut keadilan bagi korban dan sistem perlindungan yang lebih kuat.
Jika kekerasan seksual dianggap hanya sebagai noise media, siapa yang akan membela para korban yang tak berani bersuara?
Sudah saatnya narasi berubah: bukan menutup luka dengan opini, tetapi menyembuhkannya dengan keberanian menghadapi fakta.
Karena sesungguhnya, melindungi pesantren berarti juga melindungi martabat santri yang belajar di dalamnya.***