TITIKTEMU.CO - Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda sebagai simbol persatuan nasional.
Namun, tidak banyak yang tahu bahwa di balik lahirnya ikrar bersejarah itu berdiri sosok cerdas dan visioner bernama Mohammad Yamin, seorang sastrawan, politikus, sekaligus pejuang kemerdekaan.
Sosok itulah yang menyalakan semangat kebangsaan dengan tiga kalimat sakti: Bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, Indonesia.
Pemuda dari Sumatera
Mohammad Yamin lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, pada 2 Agustus 1903. Sejak kecil, dia dikenal cerdas dan gemar membaca.
Pendidikan dasarnya ditempuh di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Palembang, lalu melanjutkan ke AMS (Algemeene Middelbare School) di Solo, tempat minatnya pada sastra dan sejarah mulai berkembang.
Ketertarikan pada dunia bahasa dan kebudayaan membentuk pandangan Yamin tentang pentingnya persatuan di tengah keberagaman Indonesia.
Setelah menyelesaikan AMS, dia menempuh pendidikan hukum di Rechtshoogeschool te Batavia (sekarang Fakultas Hukum Universitas Indonesia), dan meraih gelar Master in de Rechten pada 1932.
Pendidikan inilah yang memperkuat kapasitas intelektualnya sebagai pemikir hukum dan kebangsaan yang progresif.
Dari Jong Sumatranen Bond ke Kongres Pemuda
Saat muda, Mohammad Yamin aktif di organisasi Jong Sumatranen Bond, wadah pemuda asal Sumatera yang memperjuangkan cita-cita kebangsaan.
Di organisasi ini, Yamin mulai dikenal karena ide-idenya tentang pentingnya bahasa dan budaya sebagai perekat bangsa. Pemikiran itu mengantarnya berperan penting dalam Kongres Pemuda I tahun 1926.