Nikel vs LFP: Dilema Insentif Mobil Listrik 2026 yang Bikin Industri Ketar-Ketir!

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:55 WIB
Ilustrasi Rencana insentif pajak EV 2026 menuai polemik antara hilirisasi nikel dan tren baterai LFP global. (Pinterest @road&track)
Ilustrasi Rencana insentif pajak EV 2026 menuai polemik antara hilirisasi nikel dan tren baterai LFP global. (Pinterest @road&track)

Mengapa? Jawabannya sederhana: hukum ekonomi dan fungsionalitas.

Baterai LFP disukai manufaktur dunia karena menawarkan efisiensi harga yang luar biasa dan umur pakai (life cycle) yang jauh lebih panjang untuk kebutuhan harian.

Baca Juga: Farhan Rasyid Anak Siapa? Profil & Biodata Aktor Muda Mirip Jefri Nichol, Pacar, Agama, dan Keturunan

Ketika permintaan global terhadap LFP melonjak, ongkos produksinya pun makin murah.

Di sisi lain, meski baterai berbasis nikel unggul dalam hal kepadatan energi (density), harganya masih relatif mahal. Menolak tren LFP dinilai bisa membuat pasar Indonesia kurang kompetitif.

​Lebih jauh lagi, teknologi baterai berkembang secepat kilat.

Baca Juga: Apakah Pegadaian Buka Hari Minggu? Jam Operasional dan Layanan Pegadaian Terbaru 2026

Rofiqi menyebutkan bahwa negara-negara maju seperti Tiongkok kini tidak lagi hanya bicara soal nikel vs LFP.

Mereka sudah melangkah ke riset yang lebih futuristik, seperti baterai sodium hingga solid state.

Jika regulasi kita terlalu terpaku pada satu jenis material, Indonesia dikhawatirkan akan tertinggal dari inovasi dunia yang bergerak dinamis.

Baca Juga: Tren Self Expression 2026: Dari Fashion Kenapa Anak Muda Indonesia Rela Potong Anggaran Makan demi Tetap Tampil Kece di Medsos?

Industri membutuhkan regulasi yang fleksibel dan adaptif terhadap riset global, bukan kebijakan yang dipaksakan secara sepihak.

​Kabarnya, peluncuran insentif kendaraan listrik yang awalnya dijadwalkan pertengahan tahun 2026 ini harus sedikit digeser sekitar satu bulan.

Penundaan ini terjadi karena lintas kementerian masih sibuk menghitung formula terbaik agar kebijakan ini adil, tepat sasaran, dan menguntungkan semua pihak.

Baca Juga: Slow Living Bukan Tren Bule — Ini Alasan Gen Z Indonesia Mulai Memilih Hidup Lebih Pelan *Angle: gaya hidup slow living semakin digandrungi generasi m

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X