Colosseum Jadi Mimbar: Cara Tak Biasa Gus Miftah Menyapa Hati yang Terluka

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Rabu, 25 Februari 2026 | 18:45 WIB
Momen tausiah dan buka puasa bersama di Colosseum Jakarta bersama Gus Miftah. ( (Dok. Istimewa)
Momen tausiah dan buka puasa bersama di Colosseum Jakarta bersama Gus Miftah. ( (Dok. Istimewa)

Tentang saat ia mendatangi lokalisasi dan memberi kesempatan para pekerja berhenti bekerja selama satu malam.

Baca Juga: THR Karyawan Swasta Lebaran 2026 Cair Kapan? Ini Jadwal Resmi dan Sanksi Jika Perusahaan Telat Bayar

Baginya, berhenti dari maksiat walau hanya sesaat adalah pencapaian.

"Kalau satu malam saja berhasil, kenapa kita tidak menghargai proses?” katanya.

Ia percaya perubahan tidak selalu instan.
Hijrah sering dimulai dari langkah kecil yang dihargai, bukan dicemooh.

Baca Juga: Dari Masjid ke Taman Kota: 7 Spot Favorit Ngabuburit yang Bikin Sore Ramadan Makin Berarti

Publik mengenal Gus Miftah sebagai dai yang berdakwah di tempat-tempat tak biasa. Klub malam. Lokalisasi. Komunitas marjinal.

Ia pernah mengatakan bahwa orang yang dianggap “ahli maksiat” sering memandang orang saleh dengan penuh harap.

Sebaliknya, orang yang merasa saleh kadang melihat mereka dengan stigma. Karena itu, menurutnya, dakwah harus hadir dengan empati. Bukan dengan jarak.

Dalam sesi tanya jawab, Gus Miftah juga menyinggung masa ketika dirinya dihujani kritik.

Ia mengutip hadis bahwa jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan mengujinya.

“Manusia punya kendala, Allah punya kendali,” ucapnya.

Ia mengaku ujian justru membuatnya semakin banyak membantu orang lain.

Bahkan setelah melewati masa sulit, jumlah orang yang ia berangkatkan umrah bertambah.

Kehadirannya di klub malam selalu memantik pro dan kontra.

Ada yang menganggapnya progresif.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X