Pernyataan Kepala BNPB Soal Banjir Sumatera Disorot Akademisi, Masalah Informasi Jadi Sorotan Utama

photo author
Achmad Zainur Roziqin, TitikTemu.co
- Selasa, 16 Desember 2025 | 11:04 WIB
Akademisi Sulfikar Amir menyoroti tentang pernyataan Kepala BNPB di awal penanganan banjir Sumatera. (YouTube/Forum Keadilan TV)
Akademisi Sulfikar Amir menyoroti tentang pernyataan Kepala BNPB di awal penanganan banjir Sumatera. (YouTube/Forum Keadilan TV)

TITIKTEMU.CO - Di tengah upaya penanganan bencana banjir bandang di Sumatera, pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto sempat menuai perhatian luas dari publik.

Hal itu bermula ketika Suharyanto menyampaikan bahwa kondisi bencana di Sumatera pada akhir November 2025 terkesan mencekam hanya di media sosial, sementara kondisi lapangan disebutnya relatif lebih terkendali.

Akademisi Nilai Informasi Bencana Tidak Tersampaikan Optimal

Menanggapi pernyataan tersebut, akademisi Sulfikar Amir menilai persoalan utama terletak pada pengelolaan dan penyampaian informasi kebencanaan.

Baca Juga: Satgas PKH Temukan Dugaan Pidana di Balik Banjir Sumatera, Sejumlah Perusahaan Mulai Diselidiki

Menurutnya, informasi merupakan faktor krusial dalam mitigasi dan penanganan bencana, terutama pada fase awal kejadian.

Ia menjelaskan bahwa setidaknya ada dua jenis informasi penting yang seharusnya sudah tersedia sejak awal, yakni gambaran kondisi yang sedang terjadi dan langkah-langkah yang akan diambil selanjutnya.

Hari Pertama Bencana Dinilai Minim Informasi

Sulfikar menilai, dalam 24 jam pertama sejak bencana terjadi, masyarakat seharusnya sudah mendapatkan penjelasan yang jelas terkait situasi di lapangan serta arahan yang harus dilakukan.

Namun pada kasus banjir Sumatera, ia menilai informasi tersebut belum tersampaikan secara memadai, termasuk ketiadaan peringatan dini kepada masyarakat terdampak.

Baca Juga: Perwira Polisi Bongkar Aplikasi Ilegal Debt Collector, Diduga Jadi Senjata Matel Rampas Kendaraan di Jalan

Sistem Peringatan Dini Dinilai Belum Memadai

Sebagai negara dengan kondisi geografis yang rawan bencana seperti longsor, banjir, dan aktivitas vulkanik, Indonesia dinilai memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi.

Karena itu, Sulfikar menilai ironis jika negara dengan potensi bencana besar justru belum didukung oleh sistem peringatan dini yang kuat dan terintegrasi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Achmad Zainur Roziqin

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X