Ketiga, hindari dokumentasi berlebihan, apalagi sampai mengeksploitasi penderitaan. Keempat, jika tak bisa membantu, jangan menghalangi.
Bencana bukan panggung drama, bukan pula latar konten. Bencana adalah ruang duka dan kerja keras. Setiap langkah yang tak perlu hanya akan menambah berat beban mereka yang sudah kehilangan banyak hal.
Menjaga Nurani Publik
Maka, sebenarnya bencana menguji empati kolektif kita. Apakah kita hadir sebagai sesama manusia yang ingin meringankan beban, atau sekadar penonton yang menikmati tragedi dari jarak aman?
Seruan Presiden Prabowo menjadi pengingat bahwa ketulusan tak butuh kamera, dan kepedulian yang sebenare-benarnya tak perlu sorotan.
Jika tidak bisa membantu, setidaknya jangan menambah masalah. Biarkan lokasi bencana menjadi ruang pemulihan, bukan arena tontonan.***
Artikel Terkait
Banjir Bandang Sumatera–Aceh: Prabowo Pastikan Pemerintah Bergerak Cepat Kirim Bantuan Darat dan Udara
Ketika Komunikasi Terputus: Kisah Orang-Orang yang Menanti Kabar Keluarga di Tengah Bencana
Ketika Logistik Terputus: Kisah Warga Berebut Harapan di Tengah Krisis Tapanuli dan Aceh
Daftar Nomor Darurat Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Donasi Mengalir untuk Sumatera-Aceh, Tapi Distribusi Tidak Pernah Mudah
Kisah Kayu-kayu Hanyut yang Mengabarkan Rusaknya Ekologi di Sumatera