Ketua Eksekutif LDA Keraton Surakarta, KPH Eddy Wirabhumi, menyampaikan kekecewaannya. Dia menilai aksi itu berpotensi mengganggu proses dialog yang sedang diupayakan bersama pemerintah.
“Kami sedang fokus berkoordinasi dengan pemerintah. Tindakan seperti ini jelas mengganggu program yang sedang dijalankan bersama negara,” kata Eddy Wirabhumi.
Eddy menambahkan langkah sepihak justru berisiko memperkeruh suasana dan memperlebar jarak antar pihak yang seharusnya duduk bersama mencari solusi.
Baca Juga: Keraton Solo: Jumenengan PB XIV Sah dan Final!
Bantah Adanya Pengusiran
Pergantian gembok ini turut memunculkan isu sensitif lain, yaitu dugaan pengusiran terhadap sejumlah pihak yang selama ini beraktivitas di area keraton.
Salah satu narasi yang berkembang menyebutkan adanya karyawan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) yang bekerja di Museum Keraton Surakarta turut terdampak akibat penutupan akses.
Menanggapi isu tersebut, KPA Singonagoro membantah adanya tindakan pengusiran. Dia menegaskan kubu Purbaya tidak pernah berniat menghalangi tugas siapa pun.
“Tidak ada pengusiran. Narasi itu tidak benar. Sinuwun Purbaya selalu mengedepankan perdamaian dan menghormati semua pihak,” tegas Singonagoro.***
Artikel Terkait
Raja Kembar Keraton Surakarta, Dua Kubu Sama-sama Klaim Gelar Paku Buwono XIV
Sejarah Keraton Surakarta: Jejak Kelam Penangkapan Paku Buwono VI, Melawan Belanda, Membela Diponegoro
Begini Kronologi Kisruh Dua Raja di Keraton Surakarta dari Awal hingga Kini
Suksesi Keraton Solo dari Masa ke Masa: Konflik Tak Berujung dalam Dinasti Mataram Surakarta
Prosesi Jumenengan Tandai Gusti Purbaya Naik Takhta sebagai Pakubuwono XIV, Babak Baru Keraton Surakarta di Tengah Konflik