Setelah beberapa hari, beberapa warga berhasil menemukan keluarga Rose. Namun evakuasi belum bisa dilakukan karena derasnya arus sungai. Warga hanya bisa mengantar makanan seadanya dari kejauhan.
“Mereka makan apa saja yang bisa ditemukan, termasuk biji durian dan rumput,” tutur Rose lirih.
Baca Juga: Ketika Logistik Terputus: Kisah Warga Berebut Harapan di Tengah Krisis Tapanuli dan Aceh
Korban Bertambah, Pengungsian Membengkak
Skala bencana semakin terlihat dari data yang dihimpun BNPB. Di Sumatera Utara, tercatat lebih dari 28 ribu warga mengungsi. Korban meninggal mencapai 442 seratus orang, dan ratuisan orang lain hilang.
Evakuasi di sejumlah lokasi terhalang lumpur tebal, akses jalan terputus, serta jembatan yang hanyut. Aliran listrik dan jaringan komunikasi di banyak desa juga lumpuh total sehingga koordinasi makin sulit.
“Banjir kali ini seperti menghadapi sungai baru yang muncul dari arah yang tak pernah kami duga,” ujar seorang warga.
Alarm dari Alam: Bencana yang Berulang
Fenomena alam memang tidak bisa dicegah, namun dampaknya bisa diminimalkan jika pengelolaan lingkungan dilakukan dengan benar.
Para ahli menegaskan perlunya perlindungan hutan secara lebih tegas, tata ruang berbasis risiko, pengendalian pertambangan dan pembalakan, penguatan sistem peringatan dini cuaca.
“Fenomena ini sebenarnya tidak muncul tiba-tiba. Ada tanda-tanda yang harus dipahami,” tegas Rais.
Namun selama tutupan hutan terus berkurang, sungai menyempit, dan lahan dibuka tanpa aturan, Sumatera akan tetap berada dalam siklus bencana yang berulang.
Banjir bandang tahun ini adalah pengingat keras bahwa kondisi lingkungan di Sumatera sudah memasuki titik kritis. Jika perbaikan tidak dilakukan secara menyeluruh, bencana serupa hanya masalah waktu.
Alam memberi peringatan. Kini keputusan ada di tangan manusia, termasuk para petinggi negara, dan warga biasa: mengabaikan atau segera membenahi semuanya.***
Artikel Terkait
Begini Perkembangan Terkini Penanganan Bencana Sumut Menurut BNPB
Banjir Bandang Agam: 74 Jiwa Melayang, 2.500 Warga Mengungsi, Kerugian Tembus Rp13,9 Miliar
Operasi Udara TNI Dikebut: 76.500 Ton Bantuan Sudah Terbang ke Sumut–Aceh, Daerah Terisolasi Jadi Prioritas
BNPB Update Banjir Bandang Sumatera: 116 Korban Meninggal, Tapanuli Tengah Paling Parah dan Komunikasi Pulih via Starlink
TNI Percepat Distribusi 76 Ribu Ton Bantuan ke Sumatera dan Aceh, 11 Helikopter Dikerahkan untuk Wilayah Terisolasi
Medan Tetapkan Status Tanggap Darurat Banjir, 1.829 Warga Mengungsi dan Distribusi BBM Terkendala
Bencana Sumatra 2025: 303 Orang Meninggal, BNPB Ungkap Lonjakan Korban dan Tantangan Berat di Lapangan
Medan Darurat: 19 Kecamatan Terendam, Ribuan Warga Mengungsi dan Wali Kota Pastikan BBM Aman
Peringatan Kemenkes: Ancaman Penyakit Pascabanjir Mengintai, Posko dan RS Darurat Sudah Disiagakan di Sumatra
Daftar Nomor Darurat Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar