Hujan Ekstrem, Siklon, dan Hutan Gundul di Balik Banjir Bandang Sumatera-Aceh

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Senin, 1 Desember 2025 | 13:05 WIB
Hujan Ekstrem, Siklon, dan Hutan Gundul di Balik Banjir Bandang Sumatera. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)
Hujan Ekstrem, Siklon, dan Hutan Gundul di Balik Banjir Bandang Sumatera. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

Setelah beberapa hari, beberapa warga berhasil menemukan keluarga Rose. Namun evakuasi belum bisa dilakukan karena derasnya arus sungai. Warga hanya bisa mengantar makanan seadanya dari kejauhan.

“Mereka makan apa saja yang bisa ditemukan, termasuk biji durian dan rumput,” tutur Rose lirih.

Baca Juga: Ketika Logistik Terputus: Kisah Warga Berebut Harapan di Tengah Krisis Tapanuli dan Aceh

Korban Bertambah, Pengungsian Membengkak

Skala bencana semakin terlihat dari data yang dihimpun BNPB. Di Sumatera Utara, tercatat lebih dari 28 ribu warga mengungsi. Korban meninggal mencapai 442 seratus orang, dan ratuisan orang lain hilang.

Evakuasi di sejumlah lokasi terhalang lumpur tebal, akses jalan terputus, serta jembatan yang hanyut. Aliran listrik dan jaringan komunikasi di banyak desa juga lumpuh total sehingga koordinasi makin sulit.

“Banjir kali ini seperti menghadapi sungai baru yang muncul dari arah yang tak pernah kami duga,” ujar seorang warga.

Alarm dari Alam: Bencana yang Berulang

Fenomena alam memang tidak bisa dicegah, namun dampaknya bisa diminimalkan jika pengelolaan lingkungan dilakukan dengan benar.

Para ahli menegaskan perlunya perlindungan hutan secara lebih tegas, tata ruang berbasis risiko, pengendalian pertambangan dan pembalakan, penguatan sistem peringatan dini cuaca.

“Fenomena ini sebenarnya tidak muncul tiba-tiba. Ada tanda-tanda yang harus dipahami,” tegas Rais.

Namun selama tutupan hutan terus berkurang, sungai menyempit, dan lahan dibuka tanpa aturan, Sumatera akan tetap berada dalam siklus bencana yang berulang.

Baca Juga: Prabowo Bentuk Satgas Darurat Jembatan: Langkah Cepat Negara Menyelamatkan Akses Pendidikan Anak Pedalaman

Banjir bandang tahun ini adalah pengingat keras bahwa kondisi lingkungan di Sumatera sudah memasuki titik kritis. Jika perbaikan tidak dilakukan secara menyeluruh, bencana serupa hanya masalah waktu.

Alam memberi peringatan. Kini keputusan ada di tangan manusia, termasuk para petinggi negara, dan warga biasa: mengabaikan atau segera membenahi semuanya.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X