Situasi ini membuat Sahara benar-benar kehilangan pegangan. Biasanya, dia dan keluarganya rutin melakukan panggilan video. Kini, semua sepi.
“Tanpa kabar, tanpa suara dari mereka… enggak tenang,” katanya.
Ketika Bencana Memutus Jaringan
Kisah Kiki dan Sahara bukanlah cerita minoritas. Di setiap kali bencana besar, komunikasi yang terputus kerap menjadi luka emosional pertama bagi para perantau. Mereka hanya bisa berdoa agar keluarga selamat.
Di sisi lain, kondisi lapangan yang sulit membuat petugas penyelamat pun kesulitan mengakses informasi. Jalan-jalan terputus, cuaca buruk, hingga hilangnya jaringan menjadi hambatan besar.
Pemulihan jaringan telekomunikasi menjadi faktor krusial. Bukan sekadar soal teknologi, tapi tentang harapan, terutama bagi mereka yang menunggu kabar dari rumah.
Baca Juga: Begini Perkembangan Terkini Penanganan Bencana Sumut Menurut BNPB
Harapan di Tengah Bencana
Meski cemas, Kiki dan Sahara memilih untuk berpikir positif. Mereka percaya keluarga mereka selamat. Mereka tetap berharap kabar baik akan tiba kapan saja.
Harapan itulah yang membuat mereka bertahan dalam ketidakpastian. Setiap hari, mereka memantau perkembangan informasi, menghubungi BPBD dan Tim SAR.
Bencana memang datang membawa luka dan kehilangan, tapi bagi banyak orang, kehilangan kabar dari orang terkasih justru menjadi ketakutan terbesar. S
elama jaringan belum pulih, ribuan orang di perantauan hanya bisa menunggu—dengan cemas, dengan doa, dan dengan keyakinan bahwa yang dicintai masih menunggu di sisi lain.***
Artikel Terkait
Tersesat di Jalur Longsor 4 Hari: Kisah Dramatis Wali Kota Sibolga yang Akhirnya Ditemukan Selamat
Ahli ITB Ungkap Penyebab Banjir Bandang Sumatera: Siklon Senyar dan Kerusakan Lingkungan
Menkeu Purbaya: Pemda Belum Ajukan Tambahan Dana untuk Banjir Sumatera, Anggaran Lokal Terus Tergerus
Banjir Bandang Sumatera–Aceh: Prabowo Pastikan Pemerintah Bergerak Cepat Kirim Bantuan Darat dan Udara