Selain bibit siklon, berbagai fenomena atmosfer lain juga terpantau aktif, seperti:
- Madden-Julian Oscillation (MJO)
- Gelombang atmosfer Rossby Equatorial
- Gelombang atmosfer Kelvin
Ketiganya menciptakan zona perlambatan angin (konvergensi) yang membentang di banyak wilayah Indonesia.
Dengan kondisi udara yang lembap dan atmosfer yang labil, pertumbuhan awan konvektif menjadi lebih mudah terjadi, sehingga peluang cuaca ekstrem semakin besar.
Baca Juga: Walk Out di Forum Reformasi Polri: Refly Harun dan RRT Protes Larangan Bicara untuk Tersangka
BMKG Minta Masyarakat Lebih Waspada
Dengan kondisi atmosfer yang masih tidak stabil, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap siaga menghadapi potensi cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat, kilat dan petir, angin kencang, serta gelombang laut tinggi di beberapa wilayah perairan Indonesia.
Cuaca dalam sepekan ke depan diprediksi dinamis dan dapat berubah cepat, sehingga masyarakat diharapkan selalu memantau informasi terbaru dari BMKG.***
Artikel Terkait
Gunung Semeru Erupsi, 178 Pendaki Tertahan di Ranu Kumbolo, Dievakuasi Kamis Pagi
BGN: Program Makan Bergizi Gratis Sudah Layani 44 Juta Warga dan Jadi Investasi Besar SDM 2045
Sidang Perdana Kasus Suap Proyek Jalan Rp165 M di Sumut: Eks Kadis PUPR Topan Ginting Didakwa Terima Rp50 Juta
Polda Metro Jaya Pastikan Ijazah Jokowi Disita sebagai Barang Bukti, Akses Publik Dibuka Setelah Penyidikan Rampung
Walk Out di Forum Reformasi Polri: Refly Harun dan RRT Protes Larangan Bicara untuk Tersangka
Status Gunung Semeru Level Awas, Warga di Zona Merah Diminta Segera Mengungsi
Kasus Korupsi Google Cloud Kemendikbud Naik Penyidikan, KPK Siapkan Pelimpahan ke Kejagung
DPR Sahkan KUHAP Baru 2025: Ini Perubahan Penting dan Respons Berbagai Pihak
Wakapolri Akui Respons Lambat Laporan Masyarakat, Polri Siapkan Perbaikan Layanan Publik dan Pengawasan Internal
Timur Kapadze Dikabarkan Datang ke Indonesia untuk Liburan, Belum Pasti Bertemu PSSI