PB XIV juga berencana membentuk bebadan atau struktur kelembagaan baru. Hal ini lazim dilakukan setiap pergantian raja, agar keraton dipimpin orang-orang yang dipilih langsung dan dianggap kompeten oleh raja baru.
“Setiap raja pasti melantik bebadan baru. Saat ini masih kami rancang dan nanti akan diumumkan,” ujar GKR Rumbay.
Bayang-bayang Konflik: Klaim Tahta Ganda
Tidak dapat dipungkiri, penobatan PB XIV Purbaya terjadi di tengah polemik internal keluarga keraton. KGPH Mangkubumi, putra PB XIII lainnya, juga menggelar penobatan dan mengklaim gelar Paku Buwono XIV.
GKR Rumbay menyebut bahwa sejak awal dirinya sudah mencoba merangkul Mangkubumi untuk duduk bersama membicarakan suksesi. Namun situasi berkembang menjadi dua kubu.
“Kalau ini terus berkepanjangan, PB XIV Purbaya akan mempertimbangkan langkah hukum jika diperlukan. Pasti kami pertimbangkan langkah hukum,” katanya.
Menurutnya, jalur hukum mungkin menjadi cara terbaik menyelesaikan dualisme kepemimpinan ini agar tidak menimbulkan kegaduhan berkepanjangan.
Baca Juga: Begini Kronologi Kisruh Dua Raja di Keraton Surakarta dari Awal hingga Kini
Tidak Ada Raja Dua
KGPH Benowo, adik PB XIII, menanggapi santai klaim kubu lain terkait Paku Buwono XIV. Namun, dia menngingatkan tidak mungkin ada dua raja dalam satu keraton.
“Juara kok ada dua? Tidak ada. Kalau ada yang tetap memaksa, ya silakan. Tapi kuat berjalan atau tidak?” ujarnya.
Benowo juga menegaskan bahwa menjadi raja tidak selalu jatuh kepada anak tertua. Banyak contoh dalam sejarah Kasunanan bahwa putra bungsu sekalipun bisa naik takhta bila mendapat restu dan dipilih raja sebelumnya.
Babak Baru, Tantangan Baru
Dia menambahkan penobatan Paku Buwono XIV Purbaya membuka babak baru bagi Keraton Solo. Di satu sisi, ada harapan besar untuk revitalisasi budaya dan penguatan institusi keraton.
Artikel Terkait
Kisruh Takhta PB XIII: Hangabehi Mendadak Dinobatkan, Tedjowulan Kaget, Purboyo Kecewa?
Sejarah Keraton Surakarta: Jejak Kelam Penangkapan Paku Buwono VI, Melawan Belanda, Membela Diponegoro
Jelang Jumenengan Pakubuwono XIV, Ini Deretan Kontroversi Gusti Purbaya
Suksesi Keraton Solo dari Masa ke Masa: Konflik Tak Berujung dalam Dinasti Mataram Surakarta